Kamis, 15 Januari 2015

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI (PDRB), PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DAN DANA ALOKASI UMUM (DAU) TERHADAP BELANJA DAERAH DI KABUPATEN PASAMAN BARAT (Studi Kasus Pada Pemerintahan Kabupaten Pasaman Barat Tahun Anggaran 2005-2012) TUGAS SERCHING SOFTSKILL

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI (PDRB), PENDAPATAN ASLI
DAERAH (PAD) DAN DANA ALOKASI UMUM (DAU) TERHADAP
BELANJA DAERAH DI KABUPATEN PASAMAN BARAT
(Studi Kasus Pada Pemerintahan Kabupaten Pasaman Barat
Tahun Anggaran 2005-2012)
Oleh
1
Fitria Wulandari,
2
Asrizal,
3
Jolianis
1
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera
Barat
2
Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
3
Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
FitriaWulandari.  09090052.  Effect  of  Economic  Growth  (GDP),  Revenue
(PAD)  and  the  General  Allocation  Fund  (DAU)  of  the  Government
Expenditure  In  West  Pasaman.  Thesis.  Economic  Studies  Program  STKIP
PGRI West Sumatra. Padang. 2013.
Local Government to allocate funds in the budget Expenditure in the budget
to  increase  the  fixed  assets.  Expenditure  allocation  is  based  on  local  needs  for
facilities  and  infrastructure,  both  for  the  convenience  of  the  government  and
pablik facilities. This study aims to analyze : (1) Effect of Economic Growth on
Local  Spending,  (2)  Effect  of  local  revenue  (PAD)  of  the  Shopping  Area,  (3)
Effect  of  the  General  Allocation  Fund  (DAU)  to  Regional  Shopping,  (4)
Economic  Growth,  Revenue,  General  Allocation  Fund  simultaneously  on
Government Expenditure In West Pasaman .
Types  of  research  used  in  this  study  is  a  quantitative  approach.  Object  of
research conducted in the West Pasaman. The data used are time series data year
budget period 2005-2012 obtained from BPKAD and BPS. The variables tested
were  the  Economic  Growth  GDP  seen  from  the  data  (X1),  Revenue  (X2),  the
General Allocation Fund ( X3 ) as the independent variable and Expenditure ( Y )
as  the  dependent  variable.  The  data  will  be  analyzed  through  the  classical
assumption.  While  used  to  test  the  hypothesis  significance  testing  and  multiple
linear regression analysis.
This study found that : (1) Economic Growth significant effect on regional
expenditure,  (2)  Revenue  Expenditure  bepengaruh  significant,  (3)  General
Allocation  Funds  significant  effect  on  regional  expenditure,  and  simultaneous
hypothesis testing (4) Economic Growth, Revenue and General Allocation Funds
significant effect on regional expenditure .
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
PENDAHULUAN
Pengelolaan  pemerintah  daerah,  baik  ditingkat  provinsi  maupun  tingkat
Kabupaten  dan  Kota  memasuki  era  baru  sejalan  dengan  dikeluarkannya  UU
No.25 Tahun 1999 dan UU No.32 Tahun 2004. Kedua UU ini mengatur tentang
Pemerintah  Daerah  Dan  Perimbangan  Keuangan  Antara  Pemerintah  Pusat  Dan
Pemerintah  Daerah.  Kebijakan  ini  merupakan  tantangan  dan  peluang  bagi
Pemerintah  Daerah  (pemda)  dikarenakan  Pemda  memiliki  kewenangan  lebih
besar  untuk  mengelola  sumber  daya  yang  dimiliki  secara  efektif  dan  efisien
dengan sesedikit mungkin campur tangan pemerintah pusat.
Pemerintah  daerah  mempunyai  hak  dan  kewenangan  yang  luas  untuk
menggunakan  sumber-sumber  keuangan  yang  dimilikinya  sesuai  dengan
kebutuhan  dan  aspirasi  masyarakat  yang  berkembang  di  daerah.  Selain  itu  UU
juga  memberikan  penegasan  bahwa  daerah  memiliki  kewenangan  untuk
menentukan alokasi sumber daya ke dalam belanja daerah dengan menganut asas
kepatutan, kebutuhan dan kemampuan daerah yang dialokasikan dalam APBD.
Proses penyusunan anggaran pasca UU No. 22 Tahun 1999 (dan UU No. 32
Tahun 2004) melibatkan dua pihak yaitu: pihak eksekutif dan legislatif, masingmasing  melalui  sebuah  tim  atau  panitia  anggaran.  Adapun  eksekutif  sebagai
pelaksana operasional daerah berkewajiban membuat draft/rancangan APBD yang
hanya  bisa  diimplementasikan  kalau  sudah  disahkan  oleh  DPRD  dalam  proses
ratifikasi  anggaran.  Penyusunan  APBD  diawali  dengan  kesepakatan  antara
eksekutif dan legislatif tentang kebijakan umum APBD dan Prioritas serta Plafon
Anggaran yang akan menjadi pedoman untuk penyusunan Anggaran Pendapatan
dan  Anggaran  Belanja.  Eksekutif  membuat  rancangan  APBD  sesuai  dengan
kebijakan  umum  APBD  dan  Prioritas  dan  Plafon  Anggaran  yang  kemudian
diserahkan kepada legislatif untuk dipelajari dan dibahas bersama-sama sebelum
diterapkan sebagai Peraturan Daerah (Perda).
Anggaran  sektor  publik  pemerintah  daerah  dalam  APBD  sebenarnya
merupakan output pengalokasian sumberdaya. Adapun pengalokasian sumberdaya
merupakan  permasalahan  dasar  dalam  penganggaran  sektor  publik  (Key  dalam
Yovita:2011:02). Keterbatasan sumberdaya sebagai pangkal masalah utama dalam
pengalokasian anggaran sektor publik, dan dapat diatasi dengan pendekatan ilmu
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
ekonomi  melalui  berbagai  teori  tentang  teknik  dan  prinsip  seperti  yang  dikenal
dalam public expenditure management.
Pemerintah  daerah  mengalokasikan  dana  dalam  bentuk  anggaran  belanja
daerah  dalam  APBD  untuk  menambah  aset  tetap.  Alokasi  belanja  daerah  ini
didasarkan  pada  kebutuhan  daerah  akan  sarana  dan  prasarana,  baik  untuk
kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Oleh
karena  itu,  dalam  upaya  meningkatkan  kualitas  pelayanan  publik,  pemerintah
daerah  seharusnya  mengubah  komposisi  belanjanya.  Selama  ini  belanja  daerah
lebih banyak digunakan  untuk belanja rutin  yang relatif kurang produktif. Akan
tetapi  pemanfaatan  belanja  daerah  hendaknya  dialokasikan  untuk  hal-hal  yang
produktif,  misal  untuk  melakukan  aktivitas  pembangunan  dan program-program
layanan publik.
Infrastuktur dan sarana prasarana yang ada di daerah akan berdampak pada
pertumbuhan  ekonomi  daerah.  Jika  sarana  dan  prasarana  memadai  maka
masyarakat  dapat  melakukan  aktivitas  sehari-harinya  secara  aman  dan  nyaman
yang  akan  berpengaruh  pada  tingkat  produktivitasnya  yang  semakin  meningkat,
dan  dengan  adanya  infrastruktur  yang  memadai  akan  menarik  investor  untuk
membuka usaha di daerah tersebut. Dengan bertambahnya Belanja Daerah maka
akan  berdampak  pada  periode  yang  akan  datang  yaitu  produktivitas  masyarakat
meningkat  dan  bertambahnya  investor  akan  meningkatkan  Pendapatan  Asli
Daerah.  Pendapatan  Asli  Daerah  adalah  sumber  pendapatan  yang  diperoleh  dari
dalam  daerah  yang  mana  pemungutan  dan  pengelolaannya  merupakan
kewenangan  pemerintah  daerah  berdasarkan  peraturan  daerah  sesuai  dengan
peraturan per Undang-Undangan (Darise:2009:33).
Desentralisasi  fiskal  memberikan  kewenangan  yang  besar  kepada  daerah
untuk  menggali  potensi  yang  dimiliki  sebagai  sumber  pendapatan  daerah  untuk
membiayai  pengeluaran  daerah  dalam  rangka  pelayanan  publik.  Berdasarkan
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, salah satu sumber pendapatan daerah adalah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi
daerah,  hasil  pengelolaan  kekayaan  daerah  yang  dipisahkan  dan  lain-lain  PAD
yang  sah.  Peningkatan  PAD  diharapkan  meningkatkan  investasi pemerintah
daerah sehingga kualitas pelayanan publik semakin baik tetapi yang terjadi adalah
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
peningkatan  Pendapatan  Asli  Daerah  tidak  diikuti  dengan  kenaikan  anggaran
Belanja Daerah yang signifikan hal ini disebabkan karena Pendapatan Asli Daerah
tersebut banyak digunakan untuk membiayai belanja lainnya.
Setiap  daerah  mempunyai  kemampuan  keuangan  yang  tidak  sama  dalam
mendanai  kegiatan-kegiatannya,  hal  ini  menimbulkan  ketimpangan  fiskal  antara
satu daerah dengan daerah lainnya. Oleh karena itu, untuk mengatasi ketimpangan
fiskal  ini  Pemerintah  mengalokasikan  dana  yang  bersumber  dari  APBN  untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Salah satunya yaitu
dana perimbangan dari pemerintah pusat yaitu Dana Alokasi Umum (DAU) yang
pengalokasiannya  menekankan  aspek  pemerataan  dan  keadilan  yang  selaras
dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan (UU No. 32 Tahun 2004). Dengan
adanya transfer dana dari pemerintah pusat ini diharapkan pemerintah daerah bisa
lebih mengalokasikan PAD yang didapatnya untuk membiayai Belanja Daerah di
daerahnya.
Adapun  data  Pertumbuhan  Ekonomi,  Pendapatan  Asli  Daerah,  Dana
Alokasi  Umum  dan  Belanja  Daerah  Kabupaten  Pasaman  Barat  adalah  sebagai
berikut :
TABEL 1.1
DATA PDRB, PAD, DAU DAN BELANJA DAERAH
PEMERINTAH KABUPATEN PASAMAN BARAT
(DALAM JUTAAN RUPIAH)
TAHUN
BELANJA
DAERAH
%
Per
tamba
han
PDRB
Pertumbu
han
Ekonomi
PAD
%
Per
tamba
han
DAU
%
Per
tamba
han
2005 97.810,79 0 1.988.703,86 0 3.572,67 0 109.228,00 0
2006 246.270,98 151,783 2.115.152,39 6,358 14.292,73 300,057 243.281,00 122,728
2007 386.855,94 57,085 2.250.818,83 6,414 19.599,54 37,129 271.069,00 11,422
2008 399.307,59 3,219 2.394.934,54 6,403 20.556,24 4,881 305.576,07 12,730
2009 453.251,24 13,509 2.544.771,31 6,256 23.220,62 12,961 323.123,28 5,742
2010 490.644,13 8,250 2.707.342,74 6,388 24.204,87 4,239 350.371,16 8,433
2011 557.397,96 13,605 2.881.110,75 6,418 28.646,70 18,351 437.992,67 25,008
2012 659.236,02 18,270 3.063.879,74 6,344 32.493,95 13,430 457.694,68 4,498
Sumber : Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dan BPS Kabupaten Pasaman Barat
Tahun 2013
Dari  data  di  atas  dapat  dilihat  bahwa  Belanja  Daerah  (BD)  dari  tahun ke
tahun mengalami peningkatan, adapun peningkatan yang paling tinggi terjadi pada
tahun 2006 yaitu  sebesar sebesar  151,783%  hal  ini  dapat  diartikan  bahwa  pada
awal  pemekaran  Kabupaten  Pasaman  Barat pada  tahun  2005,  Pemda  Pasaman
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
Barat  sangat  banyak  mengeluarkan  dana  untuk  pemebangunan  Daerahnya  dan
juga untuk kesejahteraan masyarakat. Dilihat dari peningkatan BD, maka sangat
seimbang  dengan  perkembangan  PDRB  di  Kabupaten  Pasaman  Barat,  karena
semakin tinggi pengeluaran BD yang terjadi semakin tinggi juga PDRB yang ada.
Dimana dari tabel di atas dapat dikatakan PDRB Kabupaten Pasaman Barat dari
tahun  ke  tahun  mengalami  peningkatan  yang  bagus  hingga  mencapai  tingkat
pertambahan sebesar 6,418% sampai dengan tahun 2011.
Sedangkan  kondisi  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  tidak  jauh  berbeda
dengan  kondisi  BD,  dimana  kondisi  PAD  juga  mengalami  peningkatan
pertambahan  dari  tahun  ke  tahun,  dimana  tingkat  persentase  pertambahan  PAD
yang tertinggi yaitu sebesar 300,057% yang terjadi pada tahun 2006. Sedangkan
pada  tahun  2007  sampai  dengan  tahun  2012  tingkat  persentase  PAD  hanya
mengalami  sedikit  pertambahan  bahkan  mengalami  penurunan  dari  tahun  ke
tahun. Dengan  perubahan  PAD  yang  semakin  kecil  dapat  dikatakan  bahwa
kemampuan  untuk  membiayai  belanja  akan  mengalami  penurunan  bahkan  tidak
akan  terdanai.  Dengan  kondisi  seperti  ini  bahwa  PAD  belum  dapat  diandalkan
untuk membiayai program dalam BD yang terus terjadi seiring tuntutan kebutuhan
dan cakupan layanan publik yang harus semakin baik.
Dengan  menurunnya  kemampuan  PAD  dalam  membiayai  BD,  maka
dibutuhkan  transfer  dari  pemerintah  pusat  yang  disebut  dengan  DAU,  dimana
dalam data di  atas dapat dilihat bahwa DAU mengalami peningkatan 122,728%
pada  tahun  2006.  Dan  pada  tahun  2007  sampai  dengan  tahun  2011  DAU  terus
mengalami  peningkatan  persentase  sampai  25,008%  pada  tahun  2011.  Jika
dibandingkan  dengan  persentase  BD  pada  tahun  2011,  yaitu  sampai  mencapai
perubahan  pertambahan  sebesar  13,605%.  Dengan  kondisi  seperti  ini  dapat
terlihat  bahwa  DAU  ikut  membiayai  operasi  dan  belanja  pembangunan  daerah
yang oleh Pemda dilaporkan diperhitungan APBD. Tujuan dari tranfers DAU ini
adalah  untuk  mengurangi  kesenjangan  fiskal  antar  pemerintah  dan  menjamin
tercapainya standar pelayanan publik minimun diseluruh wilayah.
Berdasarkan  uraian  di  atas,  maka  penulis  tertarik  untuk  mengadakan
penelitian lebih jauh tentang Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah dan
Dana Alokasi Umum Kabupaten Pasaman Barat terutama pengaruhnya terhadap
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
Belanja Daerah dan bermaksud untuk menuangkan ke dalam skripsi yang berjudul
“Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD)
dan  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  terhadap  Belanja  Daerah  Di  Kabupaten
Pasaman Barat”.
Perumusan Masalah
Berdasarkan  latar  belakang  yang  ada  maka  yang  menjadi  permasalahan
adalah  apakah  Pertumbuhan  Ekonomi, Pendapatan  Asli  Daerah, Dana  Alokasi
Umum  berpengaruh secara parsial  dan  simultan  terhadap  Belanja  Daerah  di
Kabupaten Pasaman Barat ?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan  permasalahan  di  atas  maka  tujuan  dari  penlitian  ini  adalah
untuk  menganalisis  pengaruh  Pertumbuhan  Ekonomi,  Pendapatan  Asli  Daerah,
Dana  Alokasi  Umum  secara  parsial  dan  simultan  terhadap  Belanja  Daerah  di
Kabupaten Pasaman Barat.
TINJAUAN PUSTAKA
Keuangan Daerah
Keuangan  Daerah  memegang  peranan  yang  sangat  penting  dalam
menyelenggarakan kegiatan pemerintahan dan pelayanan publik. Oleh karena itu,
dalam pengelolaannya harus dilakukan secara efektif dan efisien agar tepat guna
dan  berhasil  guna.  Berkaitan  dengan  hal  tersebut  maka  berbagai  cara  untuk
memperoleh  sumber  keuangan  dan  untuk  apa  saja  sumber  keuangan  tersebut
digunakan  menjadi  perhatian  utama  bagi Pemerintah  Daerah.  Menurut  Suhanda
(2007:43)  keuangan  daerah  adalah  Semua  hak  dan  kewajiban  daerah  dalam
rangka  penyelenggaraan  pemerintah  daerah  yang  dapat  dinilai  dengan  uang
termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan
kewajiban daerah tersebut.
Belanja Daerah (BD)
Menurut  Halim  (2007:100)  belanja  daerah  merupakan  penurunan  dalam
manfaat  ekonomi  selama  periode  akuntansi  dalam  bentuk  arus  kas  keluar  atau
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
deplesi  aset,  atau  terjadinya  utang  yang  mengakibatkan  berkurangnya ekuitas
dana, selain yang berkaitan dengan distribusi kepada para peserta ekuitas dana.
Pertumbuhan Ekonomi (PDRB)
PDRB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh
seluruh  unit  usaha  kegiatan  ekonomi  dalam  suatu  daerah  atau  wilayah pada
periode  tertentu  atau  merupakan  jumlah  nilai  barang  dan  jasa  akhir  dihasilkan
oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai
tambah  barang  dan  jasa  yang  dihitung  menggunakan  harga  berlaku  pada  setiap
tahunnya,  sedangkan  PDRB  atas  harga  konstan  merupakan  nilai  tambah  barang
dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga yang berlaku pada suatu tahun
tertentu  sebagai  tahun  dasar.  Dimana  sejak  tahun  2005  BPS  telah  melakukan
perubahan tahun dasar dalam perhitungan PDRB dari tahun 1993 menjadi tahun
2000 sebagai tahun dasar perhitungan PDRB atas dasar harga konstan.
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  merupakan  suatu  pendapatan  yang
menunjukkan suatu kemampuan daerah menghimpun sumber-sumber dana untuk
membiayai kegiatan rutin maupun pembangunan. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
adalah  sumber  pendapatan  yang  harus  selalu  terus  menerus  dipacu
pertumbuhannya.  Dalam  otonomi  daerah  ini  kemandirian  Pemerintah  Daerah
sangat  dituntut  dalam  pembiayaan  pembangunan  daerah  dan  pelayanan  kepada
masyarakat.
Dana Alokasi Umum (DAU)
Menurut  Darise  (2009:38)  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  adalah  dana  yang
bersumber  dari  pendapatan  APBN  yang  dialokasikan  dengan  tujuan  pemerataan
kemampuan  keuangan  antar  daerah  untuk  mendanai  kebutuhan daerah  dalam
rangka  pelaksanaan  desentralisasi  bertujuan  untuk  pemerataan  dan  mengurangi
ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah.
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
Kerangka Konseptual
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu, maka hipotesis yang akan
diambil adalah :
1. Pertumbuhan Ekonomi bepengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah.
2. Pendapatan Asli Daerah bepengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah.
3. Dana Alokasi Umum berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah.
4. Pertumbuhan  Ekonomi,  Pendapatan  Asli  Daerah  Dan  Dana  Alokasi
Umum secara bersama berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah.
METODOLOGI PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang diteliti yaitu untuk melihat sejauh mana
pengaruh  Pertumbuhan  Ekonomi  (PDRB),  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  dan
Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  terhadap  Belanja  Daerah  (BD),  maka  penulis
berusaha  membuktikan  permasalahan yang  dihadapi  dengan  pemecahan  secara
pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Pasaman Barat pada
bulan Agustus 2013. Dalam pengumpulan data, peneliti akan menggunakan data
Time  Series (urutan  waktu)  yaitu  data  yang  dikumpulkan  dari  tahun  ke  tahun
(tahun 2005-2012) dimana data tersebut merupakan data skunder yang diperoleh
dari  lembaga  atau  Instansi  Pemerintah  yaitu  BPKAD  (Badan  Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah) dan BPS di Kabupaten Pasaman Barat.
Pertumbuhan Ekonomi (PDRB)
(X1)
Belanja Daerah (BD)
(Y)
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
(X2)
Dana Alokasi Umum (DAU)
(X3)
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
Teknik Analisa Data
1. Analisa Deskriptif
2. Uji Asumsi Klasik
3. Model Regresi
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi
variabel independen terhadap variabel dependen. Adapun persamaan regresi, yaitu
: Y= α+ b1 X1+ b2X2+ b3X3+e
Dimana :
Y = Belanja Daerah
a = Konstanta
X1 = PDRB
X2 = PAD
X3 = DAU
b1,b2,b3 = Koofesien regresi X1, X2 dan X3
e = Kesalahan Pengganda (error)
PEMBAHASAN
Tabel 4.8
Coefficients
a
No Variabel Koefisien Regresi t
hitung
Sig. Keterangan
1.
2.
3.
4.
(Constant)
PDRB
PAD
DAU
-225084,048
0,163
22,971
-0,797
-4,272
4,671
8,430
-3,076
0,013
0,010
0,001
0,037
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Fhitung
= 717,023
Fsig
= 0,000
a
RSquare
= 0,998
Adjusted R Square = 0,997
Sumber : Hasil pengolahan data (2013)
Dilihat dari nilai t
hitung
untuk variabel Pertumbuhan Ekonomi adalah sebesar
4,671  dan  untuk  membandingkannya  dengan  nilai  t
tabel
,  maka dapat  dilihat
melalui rumus df = n-k pada p-value = 0,05 sehingga diperoleh nilai ttabel
sebesar
2,015. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pertumbuhan Ekonomi terhadap
Belanja Daerah berpengaruh signifikan karena menunjukkan thitung sebesar 4,671 >
t
tabel
sebesar 2,015 dan angka signifikan 0,010. Oleh karena itu angka signifikan
0,010 < 0,05. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa secara parsial atau
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
individu  Pertumbuhan  Ekonomi  (PDRB)  berpengaruh  positif  dan  signifikan
terhadap  Belanja  Daerah.  Semakin  besar  Belanja  Daerah  yang  dikeluarkan
terutama belanja modal, maka akan semakin bagus Pertumbuhan Ekonomi yang
ada.  Hasil  penelitian  ini  sejalan  dengan  penelitian  Askam  Tuasikal  (2008)  dan
Yulia  Yustika  Sari  (2007),  yang  menyatakan  bahwa  Pertumbuhan  Ekonomi
berpengaruh  signifikan  terhadap  Belanja  Daerah.  Hasil  penelitian  ini
mengindikasikan Pertumbuhan Ekonomi mempunyai peranan yang sangat penting
dalam menentukan penerimaan daerah.
Sedangkan  dilihat  dari  nilai  thitung untuk  variabel  Pendapatan  Asli  Daerah
adalah  sebesar  8,430  dan  untuk  membandingkannya  dengan  nilai  t
tabel
,  maka
dapat dilihat melalui rumus df = n-k pada p-value = 0,05 sehingga diperoleh nilai
t
tabel
sebesar  2,015.  Dengan  demikian  dapat  dikatakan  bahwa  Pendapatan  Asli
Daerah  terhadap  Belanja  Daerah  berpengaruh  signifikan  karena  menunjukkan
t
hitung
sebesar 8,430 > t
tabel
sebesar 2,015 dan angka signifikan 0,001. Oleh karena
itu  angka  signifikan  0,001  <  0,05.  Dengan  demikian  dapat  disimpulkan  bahwa
secara  parsial  atau  individu  Pendapatan Asli  Daerah  (PAD)  berpengaruh  positif
dan signifikan terhadap Belanja Daerah, Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya
semakin besar Pendapatan Asli Daerah maka semakin besar pula Belanja Daerah
yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah terutama pada belanja modal. Hasil ini
sejalan dengan penelitian Askam Tausikal (2008) dan Yulia Yustika Sari (2007),
yang menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh signifikan terhadap
Belanja Daerah.
Sedangkan  dilihat  dari  nilai  signifikan  Dana  Alokasi  Umum  juga
berpengaruh  signifikan  terhadap  Belanja  Daerah,  hal  ini  dapat  dilihat  karena
angka signifikan hanya 0,037 dan kecil dari 0,05 (0,037 < 0,05). Dengan demikian
dapat  disimpulkan  bahwa  secara  parsial  atau  individu  Dana  Alokasi  Umum
(DAU)  berpengaruh  positif  dan  signifikan  terhadap  Belanja  Daerah,  Ho  ditolak
dan Ha diterima. Akan tetapi jika dilihat dari nilai koofisien DAU, maka koofisien
DAU  bernilai  negatif  sebesar -3,076.  Untuk  membandingkannya  dengan  nilai
t
tabel
,  maka dapat  dilihat  melalui  rumus  df  =  n-k  pada p-value =  0,05  sehingga
diperoleh  nilai  t
tabel
sebesar  2,015.  Oleh  karena  itu  t
hitung
sebesar -3,076  <  t
tabel
sebesar 2,015. Hal ini dapat dikatakan bahwa pengaruh DAU berbanding terbalik
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
terhadap Belanja Daerah, yang artinya Dana Alokasi Umum tidak menjadi acuan
utama dalam proses penyusunan APBD dan alokasi Belanja Daerah di Pasaman
Barat,  tetapi  ada  sejumlah  faktor  tertentu  yang  mempengaruhinya,  misalnya
proses  penyusunan  Kebijakan  Umum  Anggaran  (KUA)  setiap  Kabupaten  yang
memperhatikan  kondisi  makro  ekonomi  daerah  dan  sosial  politik  daerah.  Selain
itu,  sebagian  pemerintah  daerah  juga  mengharapkan  dana  bagi  hasil,  DAK  dan
sumber-sumber penerimaan lainnya.
Berdasarkan hasil koofisien DAU yang bernilai negatif sebesar -3,076 dapat
juga dikatakan bahwa semua DAU  yang diterima oleh Pemerintah Daerah tidak
semuanya digunakan untuk Belanja Daerah, akan tetapi digunakan untuk hal-hal
lain  yang  tujuan  untuk  membangun  daerah,  dengan  ini  dapat  dikatakan  bahwa
dalam membiayai Belanja Daerah Kabupaten Pasaman Barat tidak ketergantungan
sepenuhnya terhadap pemerintah pusat. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kesit
Bambang  Prakosa  (2004)  yang  menyatakan  bahwa  variabel  DAU  memiliki
pengaruh  signifikan  terhadap  Belanja  Daerah.  Dengan  demikian  dapat
disimpulkan  terdapat keterkaitan  antara  transfer  dari  pemerintah  pusat  dengan
belanja  pemerintah  daerah  walaupun  tidak  semuanya  digunakan  untuk  Belanja
Daerah.
Berdasarkan tabel 4.8 di atas diperoleh F
hitung
untuk variabel PDRB, PAD,
dan  DAU  adalah  sebesar  717,023  dan  untuk  membandingkannya  dengan  nilai
Ftabel
, maka dapat dilihat melalui rumus dk = n-k-1 pada p-value = 0,05 dan df = k
sehingga diperoleh nilai F
tabel
sebesar 6,590. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa
PDRB,  PAD  dan  DAU  terhadap  Belanja  Daerah  berpengaruh  signifikan  karena
menunjukkan  Fhitung sebesar  717,023  >  F
tabel
sebesar  6,590  dan  angka  signifikan
0,000.  Oleh  karena  itu  angka  signifikan  0,000  <  0,05.  Dengan  demikian  dapat
disimpulkan bahwa secara simultan variabel PDRB, PAD dan DAU berpengaruh
signifikan terhadap variabel Belanja Daerah. Oleh karena itu model regresi pada
penelitian ini dapat dipakai untuk memprediksi Belanja Daerah pada Pemerintah
Kabupaten Pasaman Barat.
Berdasarkan  pada  tabel  4.8 di  atas  menunjukkan  koefisien  determinasi
variabel PDRB, PAD dan DAU terhadap Belanja Daerah sebesar 0,997. Artinya
terdapat  pengaruh  yang  sangat  kuat  antara  PDRB,  PAD  dan  DAU  terhadap
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
Belanja  Daerah.  Hal  ini  menandakan  bahwa  variabel  independen  (PDRB,  PAD,
DAU) memberikan pengaruh terhadap variabel dependen (BD) sebesar 99,7% dan
sisanya  sebesar  0,3%  dipengaruhi  oleh  variabel  lain  yang  tidak  dihitung  dalam
penelitian  ini.  Pengaruh  yang  sangat  kuat  dari  ketiga  variabel  tersebut
menunjukkan bahwa manajemen pengeluaran Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
di Pasaman  Barat  yang  tercermin  dalam  APBD  sangat  ditentukan  oleh  besar
kecilnya PDRB, PAD dan DAU. Dalam pernyataan lain dapat dikatakan bahwa,
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Pasaman Barat dalam melakukan alokasi
anggaran publik yang diperuntukan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat
terutama  yang  terkait  dengan  Belanja  Daerah  sangat  tergantung  pada  PDRB,
PAD, dan DAU.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan  hasil  penelitian  dan  pembahasan  pada  Pemerintah  Kabupaten
Pasaman Barat tentang Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah
(PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Belanja Daerah tahun anggaran
2005-2012, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara  Parsial hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  Pertumbuhan  Ekonomi
(PDRB),  Pendapatan  Asli  Daerah (PAD)  dan  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)
terhadap Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat. Hal ini menunjukkan
bahwa  secara  parsial  pola  manajemen  pengeluaran  pemerintah  daerah
Kabupaten  Pasaman  Barat,  khususnya  yang  terkait  dengan  Belanja  Daerah,
rata-rata Pemerintah Daerah lebih bergantung pada PDRB, PAD dan DAU.
2. Secara bersama terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Pertumbuhan
Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum
(DAU)  terhadap  Belanja  Daerah,  hal  ini  ditunjukkan  dengan  hasil
perhitungan F
hitung 717,023 > F
tabel
6,590 atau dengan angka signifikan 0,000
< 0,05. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini dapat diartikan
bahwa apabila PDRB, PAD dan DAU mengalami peningkatan maka Belanja
Daerah juga akan mengalami peningkatan.
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
Saran
Belanja  Daerah  diarahkan  untuk  lebih  pada  peningkatan  proporsi  belanja
kepentingan publik seperti meningkatkan belanja modal. Dalam penggunaannya,
Belanja Daerah harus tetap mengedepankan efisiensi, efektivitas dan penghematan
sesuai dengan prioritas yang diharapkan dapat memberikan dukungan program program strategis daerah.
KEPUSTAKAAN
Arikunto,  Suharsimi.  (2006). Prosedur  Penelitian  Pendekatan  Suatu  Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Askam,  Tuasikal.  (2008).  Pengaruh  DAU,  DAK,  PAD  dan  PDRB  Terhadap
Belanja  Modal  Pemerintah  Daerah  Kabupaten/Kota  Di  Indonesia. Jurnal
Ekonomi dan Informasi Akuntansi.
Bastian, Indra. (2002). Sistem Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
----------------- (2006). Sistem Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
Berutu,  Reza  Monandar.  (2009).  Pengaruh  APBD  terhadap  Pertumbuhan
Ekonomi di Kabupaten Dairi. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Darise, Nurlan. (2008). Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Indeks.
---------------- (2009). Pengelolaan  Keuangan  Pada  Satuan  Kerja  Perangkat
Daerah (SKPD). Jakarta: Indeks.
Dwi  Kurniawan,  Septiawan.  (2010). Pengaruh  Penerimaan  Pajak  Dan  Retribusi
Daerah  Terhadap  Peningkatan  Pendapatan  Asli  Daerah  Di  Kabupaten
Ponerogo. Skripsi  Sarjana.  Fakultas  Ekonomi  Tarbiyah  Universitas  Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim: Malang.
Ghozali,  Imam.  (2011). Aplikasi  Analisis  Multivariat  Dengan  Program  SPSS.
Semarang: Badan Penerbitan Universitas Diponegoro.
Halim,  Abdul.  (2007). Akuntansi  Sektor  Publik-Akuntansi  Keuangan  Daerah.
Jakarta: Salemba Empat.
Handayani. (2009). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Dan Dana Alokasi Umum
Terhadap  Belanja  Daerah  (Analisis  Flypaper  Effect  di  Kabupaten  Cianjur).
Skripsi Sarjana.  Fakultas  Ekonomi  Universitas  Pendidikan  Indonesia:
Jakarta.
Hariadi, Pramono, dkk. (2010). Pengelolaan Keuangan Daerah. Jakarta: Salemba
Empat.
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap
Belanja Daerah di Kabupaten Pasaman Barat.
Kesit, Bambang Prakosa. (2004). Analisis Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU)
Dan  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  Terhadap  Prediksi  Belanja  Daerah.
Jurnal Ekonomi. Universitas Islam Indonesia.
Mahmudi. (2007). Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Yogyakarta:
STIM YKPN.
Mardiasmo. (2004). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Offset.
Noerdiawan,  Deddi,  dkk.  (2007). Akuntansi  Pemerintahan.  Jakarta:  Salemba
Empat.
Nugroho,  Suratno  Putro.  (2010). Pengaruh  Pertumbuhan  Ekonomi,  Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap Pengelolaan
anggaran Belanja Modal Pada Pemerintah Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa
Tengah. Skripsi  Sarjana  (dipublikasikan). Fakultas  Ekonomi  Universitas Di
Ponegoro: Semarang.
Riwu  Kaho,  Josef.  (2005). Prospek  Otonomi  Daerah  di  Negara  Republik
Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo.
Siregar,  Syofian.  (2010). Statistik  Deskriptif  Untuk  Penelitian.  Jakarta:  Raja
Grafindo Persada.
Suhanda.  (2007). Akuntansi  Keuangan  Pemerintah  Daerah.  Padang:  Andalas
Lima sari.
Sukirno,  Sadono.  (2008). Makro  Ekonomi  Modern:  Perkembangan  Pemikiran
dari Klasik hingga Keynesian Baru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Tambunan,  Robinson.  (2007). Ekonomi  Regional  Teori  dan  Aplikasi. Jakarta:
Bumi Aksara.
Todaro, Michael.(2006). Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Yovita, Farah Marta. (2007). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli
Daerah  (PAD)  dan  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  Terhadap  Pengelolaan
anggaran  Belanja  Modal  Pada  Pemerintah  Provinsi  Se  Indonesia. Skripsi
Sarjana (dipublikasikan). Fakultas Ekonomi: Semarang.
Yulia, Yustika Sari. (2007). Pengaruh PDRB, PAD dan DAU Terhadap Belanja
Modal. Jurnal Ekonomi dan Informasi Akuntansi.
Zuriah,  Nurul.  (2009). Metodologi  Penelitian  Sosial  dan  Pendidikan.  Jakarta:
Bumi Aksara.

PENGARUH DANA ALOKASI UMUM DAN BELANJA LANGSUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEMISKINAN DI KOTA MANADO TAHUN 2004-2012(TUGAS SERCHING SOFTSKILL)

Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
30
PENGARUH DANA ALOKASI UMUM DAN BELANJA LANGSUNG
TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DAMPAKNYA
TERHADAP KEMISKINAN DI KOTA MANADO TAHUN 2004-2012
Meilen Greri Paseki, Amran Naukoko, Patrick Wauran
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Ilmu Ekonomi Pembangunan,
Universitas Sam Ratulangi, Manado
Email: Spartakus333555@gmail.com
ABSTRAK
Otonomi daerah dapat  diartikan  sebagai  kewenangan  yang  diberikan  kepada  daerah  otonom  untuk
mengatur  dan  mengurus  sendiri  urusan  pemerintahan  dan  kepentingan  masyarakat  setempat  menurut  aspirasi
masyarakat  untuk meningkatkan  daya  guna  dan  hasil  guna  penyelenggaraan pemerintahan  dalam  rangka
pelayanan  terhadap  masyarakat  dan  pelaksanaan  pembangunan  sesuai  dengan  peraturan  perundang-undangan.
Otonomi  daerah  juga  memberikan  keleuasaan  kepada  pemerintah  daerah  dalam  mengatur  keuanganya  sendiri
dengan  tujuan  untuk  pembangunan  daerah, serta  kesejahteraan  masyarakat  menjadi  yang  utama.  Sehingga
pertumbuhan  ekonomi  meningkat  dan  Kemiskinan  pun  menurun.  Untuk  menganalisis  pengaruh  yang
ditimbulkan  oleh  variabel  Pertumbuhan  Ekonomi  dan  dampaknya  terhadap  kemiskinan  dengan  menggunakan
variabel Dana Alokasi Umum dan Belanja Langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa
besar  pengaruh  variabel  independen  Dana  Alokasi  Umum  dan  Belanja  Langsung  terhadap  Pertumbuhan
Ekonomi  serta  dampaknya  terhadap  tingkat  Kemiskinan  di  Kota  Manado.  Dengan  metode  analisis  jalur  (path
analysis)  Hasil  penelitian  ini  adalah  secara  gabungan  Dana  Alokasi  Umum  dan  Belanja  Langsung  tidak
berpengaruh  terhadap  Pertumbuhan  ekonomi  di  Kota  Manado,  serta  penggaruh,  dan  pengujian  secara  sendirisendiri  pengaruh Dana Alokasi Umum  dan  belanja  Langsung terhadap Kemiskinan  memiliki pengaruh  secara
signifikan dalam penurunan tingkat kemiskinan di Kota Manado, begitu pula dalam pengujian secara gabungan,
dimana  secara  bersama-sama  variabel  Dana  Alokasi umum,  Belanja  Langsung  dan  Pertumbuhan  Ekonomi
memiliki pengaruh terhadap Kemiskinan di Kota Manado.
Kata kunci : Dana Alokasi Umum, Belanja Langsung, PDRB, dan Kemiskinan
ABSTRACT
Regional autonomy can be interpreted as the authority given to state regions to set up and manage their
own  affairs  and  public  interests  at  the  public's  aspirations  to  improve  the  effectiveness  and  efficiency  of
governance in the context of service to the community in accordance with the development and implementation
of legislation. Regional autonomy also provide authority to local governments in regulating his own financial
with  aim  of  regional  development  and  public  welfare  be  paramount.  Thus  increasing  economic  growth  and
poverty also decreased. To analyze the effect caused by variable loss of credit impact on economic growth and
poverty by setting general allocation funds and direct expenditure. The purpose of this study is to determine how
much  influence  the  independent  variable  and  the  General  Allocation  Fund  Direct  Expenditure  on  Economic
Growth and its impact on the level of poverty in the city of Manado. The results of this study are jointly General
Allocation Fund and Direct Shopping does not affect the economic growth in the city of Manado, and influence,
and  independently  testing  the  effect  of  general  allocation  funds  and  direct  expenditure  on  Poverty  has  a
significant  effect  in  reducing  the  level  of  poverty  in  the  city  of  Manado  ,  as  well  as  in  overall  testing,  which
together variable general allocation fund, Direct spending and Economic Growth has influence on Poverty in
the city of Manado.
Keywords : General Allocation Fund, Jump Shopping, GDP, and Poverty
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
31
1. PENDAHULUAN
Dalam Undang-Undang No 22Tahun 1999 tentang Daerah yang kemudian direvisi dengan UU
Nomor 32 Tahun 2004, daerah diberi kewenangan yang lebih luas untuk mengurus rumah tangganya
dengan  mengurangi  peran  pemerintah  pusat.  Pemerintah  daerah  mempunyai  hak  dan  kewenangan
yang luas untuk menggunakan sumber-sumber keuangan yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan
dan  aspirasi  masyarakat  yang  berkembang  di  daerahnya.  Dalam  UU  tersebut  menyebutkan  dengan
tegas bahwa daerah memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi sumber daya kedalam belanjabelanja dengan menganut asas kepatutan, kebutuhan dan kemampuan daerah (Nugroho, 2009).
Menurut Sipahutar (2013) otonomi daerah mengatur kebijakan pengelolaan Keuangan Negara
yang semula  sentralistik menjadi desentralisasi. Desentralisasi Fiskal di Indonesia dilakukan dengan
pemberian diskresi belanja daerah yang luas dengan didukung oleh pendanaan transfer dari pusat ke
Daerah. Amanat itu tertuang dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah. Desentralisasi fiskal diarahkan untuk mewujudkan alokasi
sumber daya Nasional yang efisien melalui hubungan keuangan pusat dan daerah yang transparan dan
akuntabel  melalui  instrumen  yang  terdiri  atas  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  untuk  mengurangi
horizontal imbalance, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH).
DAU yang merupakan general purpose grant atau block grants adalah dana yang bersumber
dari  pendapatan  APBN  yang  dialokasikan  dengan  tujuan  pemerataan  kemampuan  keuangan  antar
daerah  untuk  mendanai  kebutuhan  daerah  dalam  rangka  pelaksanaan  desentralisasi. Dana Alokasi
dasar  dihitung berdasarkan  jumlah  gaji  Pegawai  Negeri  Sipil  Daerah.  Kebutuhan  fiskal  daerah
merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Kebutuhan
pendanaan daerah diukur secara berturut-turut dari jumlah penduduk, luas wilayah, indeks kemahalan
konstruksi, produk domestik regional bruto per kapita, dan indeks pembangunan manusia.
Alokasi  DAU  bagi  daerah  yang  potensi  fiskalnya  besar,  tetapi  kebutuhan  fiskal  kecil  akan
memperoleh  alokasi  DAU  relatif  kecil.  Sebaliknya,  daerah  yang  potensi  fiskalnya  kecil,  namun
kebutuhan fiskal besar, akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut
menegaskan  fungsi  DAU  sebagai  faktor  pemerataan  kapasitas  fiskal  (Diko,  2011). Dibawah  ini
merupakan gambaran pertumbuhan Dana Alokasi Umum yang ada di Kota Mando.
Gambar 1. Pertumbuhan Dana Alokasi Umum Kota Manado
Jika  dilihat  pada  gambar  1 menunjukan  bahwa  jumlah  dana  yang  diberikan  oleh  Pemerintah
pusat ke daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) kepada pemerintah Kota Kanado untuk
digunakan  dalam  kegiatan  pendanaan   pembangunan  dari  tahun  ke  tahun  tidak  tetap  seperti  terlihat
dari tahun 2001 sampai pada tahun 2012. Memberikan tren positif.
0.00%
100.00%
Pertumbuhan Dana Alokasi Umum Kota Manado
Pertumbuhan DAU
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
31
1. PENDAHULUAN
Dalam Undang-Undang No 22Tahun 1999 tentang Daerah yang kemudian direvisi dengan UU
Nomor 32 Tahun 2004, daerah diberi kewenangan yang lebih luas untuk mengurus rumah tangganya
dengan  mengurangi  peran  pemerintah  pusat.  Pemerintah  daerah  mempunyai  hak  dan  kewenangan
yang luas untuk menggunakan sumber-sumber keuangan yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan
dan  aspirasi  masyarakat  yang  berkembang  di  daerahnya.  Dalam  UU  tersebut  menyebutkan  dengan
tegas bahwa daerah memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi sumber daya kedalam belanjabelanja dengan menganut asas kepatutan, kebutuhan dan kemampuan daerah (Nugroho, 2009).
Menurut Sipahutar (2013) otonomi daerah mengatur kebijakan pengelolaan Keuangan Negara
yang semula  sentralistik menjadi desentralisasi. Desentralisasi Fiskal di Indonesia dilakukan dengan
pemberian diskresi belanja daerah yang luas dengan didukung oleh pendanaan transfer dari pusat ke
Daerah. Amanat itu tertuang dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah. Desentralisasi fiskal diarahkan untuk mewujudkan alokasi
sumber daya Nasional yang efisien melalui hubungan keuangan pusat dan daerah yang transparan dan
akuntabel  melalui  instrumen  yang  terdiri  atas  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  untuk  mengurangi
horizontal imbalance, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH).
DAU yang merupakan general purpose grant atau block grants adalah dana yang bersumber
dari  pendapatan  APBN  yang  dialokasikan  dengan  tujuan  pemerataan  kemampuan  keuangan  antar
daerah  untuk  mendanai  kebutuhan  daerah  dalam  rangka  pelaksanaan  desentralisasi. Dana Alokasi
dasar  dihitung berdasarkan  jumlah  gaji  Pegawai  Negeri  Sipil  Daerah.  Kebutuhan  fiskal  daerah
merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Kebutuhan
pendanaan daerah diukur secara berturut-turut dari jumlah penduduk, luas wilayah, indeks kemahalan
konstruksi, produk domestik regional bruto per kapita, dan indeks pembangunan manusia.
Alokasi  DAU  bagi  daerah  yang  potensi  fiskalnya  besar,  tetapi  kebutuhan  fiskal  kecil  akan
memperoleh  alokasi  DAU  relatif  kecil.  Sebaliknya,  daerah  yang  potensi  fiskalnya  kecil,  namun
kebutuhan fiskal besar, akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut
menegaskan  fungsi  DAU  sebagai  faktor  pemerataan  kapasitas  fiskal  (Diko,  2011). Dibawah  ini
merupakan gambaran pertumbuhan Dana Alokasi Umum yang ada di Kota Mando.
Gambar 1. Pertumbuhan Dana Alokasi Umum Kota Manado
Jika  dilihat  pada  gambar  1 menunjukan  bahwa  jumlah  dana  yang  diberikan  oleh  Pemerintah
pusat ke daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) kepada pemerintah Kota Kanado untuk
digunakan  dalam  kegiatan  pendanaan   pembangunan  dari  tahun  ke  tahun  tidak  tetap  seperti  terlihat
dari tahun 2001 sampai pada tahun 2012. Memberikan tren positif.
Pertumbuhan DAU
Pertumbuhan Dana Alokasi Umum Kota Manado
Pertumbuhan DAU
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
31
1. PENDAHULUAN
Dalam Undang-Undang No 22Tahun 1999 tentang Daerah yang kemudian direvisi dengan UU
Nomor 32 Tahun 2004, daerah diberi kewenangan yang lebih luas untuk mengurus rumah tangganya
dengan  mengurangi  peran  pemerintah  pusat.  Pemerintah  daerah  mempunyai  hak  dan  kewenangan
yang luas untuk menggunakan sumber-sumber keuangan yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan
dan  aspirasi  masyarakat  yang  berkembang  di  daerahnya.  Dalam  UU  tersebut  menyebutkan  dengan
tegas bahwa daerah memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi sumber daya kedalam belanjabelanja dengan menganut asas kepatutan, kebutuhan dan kemampuan daerah (Nugroho, 2009).
Menurut Sipahutar (2013) otonomi daerah mengatur kebijakan pengelolaan Keuangan Negara
yang semula  sentralistik menjadi desentralisasi. Desentralisasi Fiskal di Indonesia dilakukan dengan
pemberian diskresi belanja daerah yang luas dengan didukung oleh pendanaan transfer dari pusat ke
Daerah. Amanat itu tertuang dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah. Desentralisasi fiskal diarahkan untuk mewujudkan alokasi
sumber daya Nasional yang efisien melalui hubungan keuangan pusat dan daerah yang transparan dan
akuntabel  melalui  instrumen  yang  terdiri  atas  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  untuk  mengurangi
horizontal imbalance, Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH).
DAU yang merupakan general purpose grant atau block grants adalah dana yang bersumber
dari  pendapatan  APBN  yang  dialokasikan  dengan  tujuan  pemerataan  kemampuan  keuangan  antar
daerah  untuk  mendanai  kebutuhan  daerah  dalam  rangka  pelaksanaan  desentralisasi. Dana Alokasi
dasar  dihitung berdasarkan  jumlah  gaji  Pegawai  Negeri  Sipil  Daerah.  Kebutuhan  fiskal  daerah
merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Kebutuhan
pendanaan daerah diukur secara berturut-turut dari jumlah penduduk, luas wilayah, indeks kemahalan
konstruksi, produk domestik regional bruto per kapita, dan indeks pembangunan manusia.
Alokasi  DAU  bagi  daerah  yang  potensi  fiskalnya  besar,  tetapi  kebutuhan  fiskal  kecil  akan
memperoleh  alokasi  DAU  relatif  kecil.  Sebaliknya,  daerah  yang  potensi  fiskalnya  kecil,  namun
kebutuhan fiskal besar, akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut
menegaskan  fungsi  DAU  sebagai  faktor  pemerataan  kapasitas  fiskal  (Diko,  2011). Dibawah  ini
merupakan gambaran pertumbuhan Dana Alokasi Umum yang ada di Kota Mando.
Gambar 1. Pertumbuhan Dana Alokasi Umum Kota Manado
Jika  dilihat  pada  gambar  1 menunjukan  bahwa  jumlah  dana  yang  diberikan  oleh  Pemerintah
pusat ke daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) kepada pemerintah Kota Kanado untuk
digunakan  dalam  kegiatan  pendanaan   pembangunan  dari  tahun  ke  tahun  tidak  tetap  seperti  terlihat
dari tahun 2001 sampai pada tahun 2012. Memberikan tren positif.
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
32
Pengalokasian  Dana  Alokasi  Umum  pemerintah  pusat  ke  pemerintah  daerah  kabupaten/kota
diperuntukan  untuk  pemerataan  kemampuan  keuangan  dalam  mendanai  setiap  kebutuhan  daerah
kabupaten/kota dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pengelolaan DAU juga perlu memperhatikan
mengenai sejauh mana aspirasi masyarakat dapat terserap dengan mekanisme pengelolaan yang tepat
dan  trasnparan  Kebijakan  umum  pengelolaan  keuangan  daerah,  dikelola  berdasarkan  pendekatan
kinerja yaitu pengelolaan angaran yang mengutamakan pencapaian out come dari alokasi biaya atau
input yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kondisi semua komponen keuangan (Leode,2009).
Dalam pendanaan pembangunan daerah yang terstruktur terdapat Belanja yang dilakukan daerah
untuk  dipergunakan  dalam   rangka  mendanai  pelaksanaan  urusan  pemerintah  yang  menjadi
kewenangan Provinsi atau Kabupaten/Kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan
yang  penanganannya  dalam  bidang  tertentu  yang  dapat   dilaksanakan  bersama  antara  Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah. Belanja penyelenggaran urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi
dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang
diwujudkan  dalam  bentuk  peningkatan  pelayanan  dasar,  Pendidikan,  Kesehatan,  fasilitas  sosial  dan
fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Dalam rangka memudahkan
penilaian kewajaran biaya suatu program atau kegiatan, belanja menurut kelompok belanja terdiri dari
Belanja tidak Langsung dan Belanja Langsung ( Try, 2011).
Vegirawaty, (2012) Menurut Permendagri No 13 tahun 2006, Belanja Langsung adalah belanja
yang  dianggarkan  terkait  secara  langsung  dengan  pelaksanaan  program  dan  kegiatan.  Program
merupakan  penjabaran  kebijakan  SKPD  dalam  bentuk  upaya  yang  berisi  satu  atau  lebih  kegiatan
dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan
misi SKPD. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja
pada  SKPD  sebagai  bagian  dari  pencapaian  sasaran  terukur  pada  suatu  program  dan  terdiri  dari
sekumpulan  tindakan  pengerahan  sumber  daya  balk  yang  berupa  personil  (sumber  daya  manusia),
barang  modal  termasuk  peralatan  dan  teknologi,  dana,  atau  kombinasi  dari  beberapa  atau  kesemua
jenis  sumber  daya  tersebut  sebagai  masukan(input) untuk  menghasilkan  keluaran (output) dalam
bentuk barang/jasa. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran
yang diharapkan dari suatu kegiatan.
Belanja  langsung  terdiri  dari  belanja  pegawai,  belanja  barang  dan  jasa;  dan  belanja  modal.
Belanja  pegawai  untuk  pengeluaran  honorarium/upah  dalam  melaksanakan  program  dan  kegiatan
pemerintahan  daerah.  Belanja  barang  dan  jasa  merupakan  pengeluaran  untuk  pembelian/pengadaan
barang  yang  nilai  manfaatnya  kurang  dari  12  (dua  belas)  bulan  dan/atau  pemakaian  jasa dalam
melaksanakan  program  dan  kegiatan  pemerintahan  daerah.  Pembelian/pengadaan  barang  dan/atau
pemakaian  jasa  mencakup  belanja  barang  pakai  habis,  bahan/material,  jasa  kantor,  premi  asuransi,
perawatan  kendaraan  bermotor,  cetak/penggandaan,  sewa  rumah/gedung/gudang/parkir,  sewa  sarana
mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman, pakaian
dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas,perjalanan
dinas  pindah  tugas  dan pemulangan  pegawai.Dapat  dilihat  pada  gambar  dibawah  ini  pertumbuhan
belanja Langsung Kota Manado
Gambar 2. Pertumbuhan Belanja Langsung Kota Manado
0.00%
50.00%
2002
2003
2004
2005
2006
2007
Pertumbuhan Belanja Langsung Kota Manado
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
32
Pengalokasian  Dana  Alokasi  Umum  pemerintah  pusat  ke  pemerintah  daerah  kabupaten/kota
diperuntukan  untuk  pemerataan  kemampuan  keuangan  dalam  mendanai  setiap  kebutuhan  daerah
kabupaten/kota dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pengelolaan DAU juga perlu memperhatikan
mengenai sejauh mana aspirasi masyarakat dapat terserap dengan mekanisme pengelolaan yang tepat
dan  trasnparan  Kebijakan  umum  pengelolaan  keuangan  daerah,  dikelola  berdasarkan  pendekatan
kinerja yaitu pengelolaan angaran yang mengutamakan pencapaian out come dari alokasi biaya atau
input yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kondisi semua komponen keuangan (Leode,2009).
Dalam pendanaan pembangunan daerah yang terstruktur terdapat Belanja yang dilakukan daerah
untuk  dipergunakan  dalam   rangka  mendanai  pelaksanaan  urusan  pemerintah  yang  menjadi
kewenangan Provinsi atau Kabupaten/Kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan
yang  penanganannya  dalam  bidang  tertentu  yang  dapat   dilaksanakan  bersama  antara  Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah. Belanja penyelenggaran urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi
dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang
diwujudkan  dalam  bentuk  peningkatan  pelayanan  dasar,  Pendidikan,  Kesehatan,  fasilitas  sosial  dan
fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Dalam rangka memudahkan
penilaian kewajaran biaya suatu program atau kegiatan, belanja menurut kelompok belanja terdiri dari
Belanja tidak Langsung dan Belanja Langsung ( Try, 2011).
Vegirawaty, (2012) Menurut Permendagri No 13 tahun 2006, Belanja Langsung adalah belanja
yang  dianggarkan  terkait  secara  langsung  dengan  pelaksanaan  program  dan  kegiatan.  Program
merupakan  penjabaran  kebijakan  SKPD  dalam  bentuk  upaya  yang  berisi  satu  atau  lebih  kegiatan
dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan
misi SKPD. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja
pada  SKPD  sebagai  bagian  dari  pencapaian  sasaran  terukur  pada  suatu  program  dan  terdiri  dari
sekumpulan  tindakan  pengerahan  sumber  daya  balk  yang  berupa  personil  (sumber  daya  manusia),
barang  modal  termasuk  peralatan  dan  teknologi,  dana,  atau  kombinasi  dari  beberapa  atau  kesemua
jenis  sumber  daya  tersebut  sebagai  masukan(input) untuk  menghasilkan  keluaran (output) dalam
bentuk barang/jasa. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran
yang diharapkan dari suatu kegiatan.
Belanja  langsung  terdiri  dari  belanja  pegawai,  belanja  barang  dan  jasa;  dan  belanja  modal.
Belanja  pegawai  untuk  pengeluaran  honorarium/upah  dalam  melaksanakan  program  dan  kegiatan
pemerintahan  daerah.  Belanja  barang  dan  jasa  merupakan  pengeluaran  untuk  pembelian/pengadaan
barang  yang  nilai  manfaatnya  kurang  dari  12  (dua  belas)  bulan  dan/atau  pemakaian  jasa dalam
melaksanakan  program  dan  kegiatan  pemerintahan  daerah.  Pembelian/pengadaan  barang  dan/atau
pemakaian  jasa  mencakup  belanja  barang  pakai  habis,  bahan/material,  jasa  kantor,  premi  asuransi,
perawatan  kendaraan  bermotor,  cetak/penggandaan,  sewa  rumah/gedung/gudang/parkir,  sewa  sarana
mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman, pakaian
dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas,perjalanan
dinas  pindah  tugas  dan pemulangan  pegawai.Dapat  dilihat  pada  gambar  dibawah  ini  pertumbuhan
belanja Langsung Kota Manado
Gambar 2. Pertumbuhan Belanja Langsung Kota Manado
Pertumbuhan BL 2007
2008
2009
2010
2011
2012
Pertumbuhan Belanja Langsung Kota Manado
Pertumbuhan BL
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
32
Pengalokasian  Dana  Alokasi  Umum  pemerintah  pusat  ke  pemerintah  daerah  kabupaten/kota
diperuntukan  untuk  pemerataan  kemampuan  keuangan  dalam  mendanai  setiap  kebutuhan  daerah
kabupaten/kota dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pengelolaan DAU juga perlu memperhatikan
mengenai sejauh mana aspirasi masyarakat dapat terserap dengan mekanisme pengelolaan yang tepat
dan  trasnparan  Kebijakan  umum  pengelolaan  keuangan  daerah,  dikelola  berdasarkan  pendekatan
kinerja yaitu pengelolaan angaran yang mengutamakan pencapaian out come dari alokasi biaya atau
input yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kondisi semua komponen keuangan (Leode,2009).
Dalam pendanaan pembangunan daerah yang terstruktur terdapat Belanja yang dilakukan daerah
untuk  dipergunakan  dalam   rangka  mendanai  pelaksanaan  urusan  pemerintah  yang  menjadi
kewenangan Provinsi atau Kabupaten/Kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan
yang  penanganannya  dalam  bidang  tertentu  yang  dapat   dilaksanakan  bersama  antara  Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah. Belanja penyelenggaran urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi
dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang
diwujudkan  dalam  bentuk  peningkatan  pelayanan  dasar,  Pendidikan,  Kesehatan,  fasilitas  sosial  dan
fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Dalam rangka memudahkan
penilaian kewajaran biaya suatu program atau kegiatan, belanja menurut kelompok belanja terdiri dari
Belanja tidak Langsung dan Belanja Langsung ( Try, 2011).
Vegirawaty, (2012) Menurut Permendagri No 13 tahun 2006, Belanja Langsung adalah belanja
yang  dianggarkan  terkait  secara  langsung  dengan  pelaksanaan  program  dan  kegiatan.  Program
merupakan  penjabaran  kebijakan  SKPD  dalam  bentuk  upaya  yang  berisi  satu  atau  lebih  kegiatan
dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan
misi SKPD. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja
pada  SKPD  sebagai  bagian  dari  pencapaian  sasaran  terukur  pada  suatu  program  dan  terdiri  dari
sekumpulan  tindakan  pengerahan  sumber  daya  balk  yang  berupa  personil  (sumber  daya  manusia),
barang  modal  termasuk  peralatan  dan  teknologi,  dana,  atau  kombinasi  dari  beberapa  atau  kesemua
jenis  sumber  daya  tersebut  sebagai  masukan(input) untuk  menghasilkan  keluaran (output) dalam
bentuk barang/jasa. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran
yang diharapkan dari suatu kegiatan.
Belanja  langsung  terdiri  dari  belanja  pegawai,  belanja  barang  dan  jasa;  dan  belanja  modal.
Belanja  pegawai  untuk  pengeluaran  honorarium/upah  dalam  melaksanakan  program  dan  kegiatan
pemerintahan  daerah.  Belanja  barang  dan  jasa  merupakan  pengeluaran  untuk  pembelian/pengadaan
barang  yang  nilai  manfaatnya  kurang  dari  12  (dua  belas)  bulan  dan/atau  pemakaian  jasa dalam
melaksanakan  program  dan  kegiatan  pemerintahan  daerah.  Pembelian/pengadaan  barang  dan/atau
pemakaian  jasa  mencakup  belanja  barang  pakai  habis,  bahan/material,  jasa  kantor,  premi  asuransi,
perawatan  kendaraan  bermotor,  cetak/penggandaan,  sewa  rumah/gedung/gudang/parkir,  sewa  sarana
mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman, pakaian
dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas,perjalanan
dinas  pindah  tugas  dan pemulangan  pegawai.Dapat  dilihat  pada  gambar  dibawah  ini  pertumbuhan
belanja Langsung Kota Manado
Gambar 2. Pertumbuhan Belanja Langsung Kota Manado
Pertumbuhan BL
Pertumbuhan BL
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
33
Pada  gambar 2  dapat  dilihat  bahwa  pertumbuhan  belanja  Kota  Manado  memberikan  tren
positif. Belanja merupakan  kebutuhan  yang  tidak  dapat  dihidari  dalam  pembangunan  suatu  daerah
Kabupaten/Kota.  Dengan  adanya  pengelolaan  dana  yang  baik  dari  Pemerintah  daerah  serta
pengalokasian belanja yang tepat sasaran sehingga tujuan pelayanan kepada masyarakat dapat tercapai
dan  tingkat  kesejahteraan  masyarakat  pun  ikut  naik.  Dan  dengan  ikut  naiknya  taraf  kesjahteraan
masyarakat  sehingga  akan  berimbas  pada  peningkatan  Pertumbuhan  Ekonomi  daerah  .  serta
pemanfaatan  belanja  yang  dilakukan  pemerintah  hendaknya  dialokasikan untuk  hal-hal  produktif,
misalanya  untuk  melakukan  aktivitas  pembangunan,  pemanfaatan  sumber  daya  yang  optimal,  dan
kualitas  SDM  semakin  ditingkatkan.  Hal  ini  menyiratkan  pentingnya  mengaloksikan  belanja
pemerintah daerah untuk kepentingan publik.
Dalam pertumbuhan ekonomi suatu Negara/Daerah diketahui dari kenaikan Produk Domestik
Regional  Bruto  (PDRB).  Setiap  Negara/Daerah  mempunyai  kesempatan  untuk  mewujudkan
pertumbuhan  ekonomi  oleh  kaerena  faktor-faktor  produksi  bertambah  dari  satu  periode  ke  periode
lain,  sehingga  pendapatan  Nasional/Daerah  dapat  ditingkatkan.  Ada  beberapa  faktor  yang
mempengaruhi  pertumbuhan  ekonomi  diantaranya  sebagai  berikut  :  1).  Tanah  dan  kekayaan  alam
lainya,  2).  Jumlah  dan  kualitas  dari  penduduk  dan  tenaga  kerja,  3).  Barang-barang  Modal  dan
Teknologi (Sukirno, 2004).
Gambar 3. Pertumbuhan Ekonomi Kota Manado
Gambar  3 diatas  menunjukan  bahwa  pertumbuhan  Perekonomian  Kota  Manado  terus
meningkat dan memberikan tren positif.
Pertumbuhan  Ekonomi  merupakan  salah  satu  indikator dari  keberhasilan  pembanguanan
ekonomi  suatu  daerah.  Dimana  pembanguna  yang  dilakukan  pemerintah  daerah  dapat  tepat  sasaran
maka  Pertumbuhan  ekonomi  akan  mengalami  peningkatan.  Bila  pertumbuhan  ekonomi  daerah
meningkat  maka  tingkat  kesejahteraan  masyarakat  dan  juga  produktifitasnya  pun  semakin  tinggi.
Sehingga pengangguran berkurang dan kemiskinan pun akan turun.
Todaro dan Stephen C. Smith, (2006) juga mengatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi menjadi
salah  satu  syarat  tercapainya  pembangunan  ekonomi,  namun yang  perlu  diperhatikan  tidak  hanya
angka statistik yang menggambarkan laju pertumbuhan, namun lebih kepada siapa yang menciptakan
pertumbuhan ekonomi tersebut, apakah hanya segelintir orang  atau  sebagian besar  masyarakat. Jika
hanya  segelintir  orang  yang menikimati  maka  pertumbuhan  ekonomi  tidak  mampu  mereduksi
kemiskinan dan memperkecil ketimpangan, sebaliknya jika sebagian besar turut berpartisipasi dalam
peningkatan pertumbuhan ekonomi maka kemiskinan dapat direduksi dan gap antara orang kaya dan
orang miskin dapat diperkecil.
0%
50%
100%
Pertumbuhan Ekonomi
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
33
Pada  gambar 2  dapat  dilihat  bahwa  pertumbuhan  belanja  Kota  Manado  memberikan  tren
positif. Belanja merupakan  kebutuhan  yang  tidak  dapat  dihidari  dalam  pembangunan  suatu  daerah
Kabupaten/Kota.  Dengan  adanya  pengelolaan  dana  yang  baik  dari  Pemerintah  daerah  serta
pengalokasian belanja yang tepat sasaran sehingga tujuan pelayanan kepada masyarakat dapat tercapai
dan  tingkat  kesejahteraan  masyarakat  pun  ikut  naik.  Dan  dengan  ikut  naiknya  taraf  kesjahteraan
masyarakat  sehingga  akan  berimbas  pada  peningkatan  Pertumbuhan  Ekonomi  daerah  .  serta
pemanfaatan  belanja  yang  dilakukan  pemerintah  hendaknya  dialokasikan untuk  hal-hal  produktif,
misalanya  untuk  melakukan  aktivitas  pembangunan,  pemanfaatan  sumber  daya  yang  optimal,  dan
kualitas  SDM  semakin  ditingkatkan.  Hal  ini  menyiratkan  pentingnya  mengaloksikan  belanja
pemerintah daerah untuk kepentingan publik.
Dalam pertumbuhan ekonomi suatu Negara/Daerah diketahui dari kenaikan Produk Domestik
Regional  Bruto  (PDRB).  Setiap  Negara/Daerah  mempunyai  kesempatan  untuk  mewujudkan
pertumbuhan  ekonomi  oleh  kaerena  faktor-faktor  produksi  bertambah  dari  satu  periode  ke  periode
lain,  sehingga  pendapatan  Nasional/Daerah  dapat  ditingkatkan.  Ada  beberapa  faktor  yang
mempengaruhi  pertumbuhan  ekonomi  diantaranya  sebagai  berikut  :  1).  Tanah  dan  kekayaan  alam
lainya,  2).  Jumlah  dan  kualitas  dari  penduduk  dan  tenaga  kerja,  3).  Barang-barang  Modal  dan
Teknologi (Sukirno, 2004).
Gambar 3. Pertumbuhan Ekonomi Kota Manado
Gambar  3 diatas  menunjukan  bahwa  pertumbuhan  Perekonomian  Kota  Manado  terus
meningkat dan memberikan tren positif.
Pertumbuhan  Ekonomi  merupakan  salah  satu  indikator dari  keberhasilan  pembanguanan
ekonomi  suatu  daerah.  Dimana  pembanguna  yang  dilakukan  pemerintah  daerah  dapat  tepat  sasaran
maka  Pertumbuhan  ekonomi  akan  mengalami  peningkatan.  Bila  pertumbuhan  ekonomi  daerah
meningkat  maka  tingkat  kesejahteraan  masyarakat  dan  juga  produktifitasnya  pun  semakin  tinggi.
Sehingga pengangguran berkurang dan kemiskinan pun akan turun.
Todaro dan Stephen C. Smith, (2006) juga mengatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi menjadi
salah  satu  syarat  tercapainya  pembangunan  ekonomi,  namun yang  perlu  diperhatikan  tidak  hanya
angka statistik yang menggambarkan laju pertumbuhan, namun lebih kepada siapa yang menciptakan
pertumbuhan ekonomi tersebut, apakah hanya segelintir orang  atau  sebagian besar  masyarakat. Jika
hanya  segelintir  orang  yang menikimati  maka  pertumbuhan  ekonomi  tidak  mampu  mereduksi
kemiskinan dan memperkecil ketimpangan, sebaliknya jika sebagian besar turut berpartisipasi dalam
peningkatan pertumbuhan ekonomi maka kemiskinan dapat direduksi dan gap antara orang kaya dan
orang miskin dapat diperkecil.
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
33
Pada  gambar 2  dapat  dilihat  bahwa  pertumbuhan  belanja  Kota  Manado  memberikan  tren
positif. Belanja merupakan  kebutuhan  yang  tidak  dapat  dihidari  dalam  pembangunan  suatu  daerah
Kabupaten/Kota.  Dengan  adanya  pengelolaan  dana  yang  baik  dari  Pemerintah  daerah  serta
pengalokasian belanja yang tepat sasaran sehingga tujuan pelayanan kepada masyarakat dapat tercapai
dan  tingkat  kesejahteraan  masyarakat  pun  ikut  naik.  Dan  dengan  ikut  naiknya  taraf  kesjahteraan
masyarakat  sehingga  akan  berimbas  pada  peningkatan  Pertumbuhan  Ekonomi  daerah  .  serta
pemanfaatan  belanja  yang  dilakukan  pemerintah  hendaknya  dialokasikan untuk  hal-hal  produktif,
misalanya  untuk  melakukan  aktivitas  pembangunan,  pemanfaatan  sumber  daya  yang  optimal,  dan
kualitas  SDM  semakin  ditingkatkan.  Hal  ini  menyiratkan  pentingnya  mengaloksikan  belanja
pemerintah daerah untuk kepentingan publik.
Dalam pertumbuhan ekonomi suatu Negara/Daerah diketahui dari kenaikan Produk Domestik
Regional  Bruto  (PDRB).  Setiap  Negara/Daerah  mempunyai  kesempatan  untuk  mewujudkan
pertumbuhan  ekonomi  oleh  kaerena  faktor-faktor  produksi  bertambah  dari  satu  periode  ke  periode
lain,  sehingga  pendapatan  Nasional/Daerah  dapat  ditingkatkan.  Ada  beberapa  faktor  yang
mempengaruhi  pertumbuhan  ekonomi  diantaranya  sebagai  berikut  :  1).  Tanah  dan  kekayaan  alam
lainya,  2).  Jumlah  dan  kualitas  dari  penduduk  dan  tenaga  kerja,  3).  Barang-barang  Modal  dan
Teknologi (Sukirno, 2004).
Gambar 3. Pertumbuhan Ekonomi Kota Manado
Gambar  3 diatas  menunjukan  bahwa  pertumbuhan  Perekonomian  Kota  Manado  terus
meningkat dan memberikan tren positif.
Pertumbuhan  Ekonomi  merupakan  salah  satu  indikator dari  keberhasilan  pembanguanan
ekonomi  suatu  daerah.  Dimana  pembanguna  yang  dilakukan  pemerintah  daerah  dapat  tepat  sasaran
maka  Pertumbuhan  ekonomi  akan  mengalami  peningkatan.  Bila  pertumbuhan  ekonomi  daerah
meningkat  maka  tingkat  kesejahteraan  masyarakat  dan  juga  produktifitasnya  pun  semakin  tinggi.
Sehingga pengangguran berkurang dan kemiskinan pun akan turun.
Todaro dan Stephen C. Smith, (2006) juga mengatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi menjadi
salah  satu  syarat  tercapainya  pembangunan  ekonomi,  namun yang  perlu  diperhatikan  tidak  hanya
angka statistik yang menggambarkan laju pertumbuhan, namun lebih kepada siapa yang menciptakan
pertumbuhan ekonomi tersebut, apakah hanya segelintir orang  atau  sebagian besar  masyarakat. Jika
hanya  segelintir  orang  yang menikimati  maka  pertumbuhan  ekonomi  tidak  mampu  mereduksi
kemiskinan dan memperkecil ketimpangan, sebaliknya jika sebagian besar turut berpartisipasi dalam
peningkatan pertumbuhan ekonomi maka kemiskinan dapat direduksi dan gap antara orang kaya dan
orang miskin dapat diperkecil.
Pertumbuhan Ekonomi
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
34
Dyah Arini, (2008) mengatakan bahwa kemiskinan dapat muncul sebagai akibat dari tingginya
tingkat pengangguran dalam suatu Negara atau Daerah tertentu. Akan tetapi kemiskinan tidak hanya
diakibatkan  oleh  ketiadaan  pekerjaan.  Kondisi  tersebut  bisa  juga  terjadi  karena  kemalasan,
ketidakmauan untuk bekerja keras yang hanya menunggu adanya pemberian dari orang lain. Selain itu
persoalan  kemiskinan  juga  terletak  pada  adanya  ketidakpastian  dari  pemerintah  yang  memberikan
janji-janji  palsu  untuk  masyarakat  awam.  Penduduk  miskin  hanya  memiliki  sumber  daya  dalam
jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas
sumberdaya  manusia.  Kualitas  sumber  daya   manusia  yang  rendah  berarti  produktivitasnya  rendah,
yang  pada  gilirannya   upahnya  rendah.  Ketiga,  kemiskinan  muncul  akibat  perbedaan  akses  dalam
modal.
Kemiskinan  merupakan  sebagai  ketidakmampuan  untuk  memenuhi  standar  hidup  minimum.
Semua tingkat kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu. Pilihan norma tersebut
sangat  penting  terutama  dalam  hal  pengukuran  kemiskinan  yang  didasarkan  konsumsi.  Garis
kemiskinan  yang   didasarkan  pada  konsumsi  terdiri  dari  dua  elemen,  yaitu:  1)  pengeluaran  yang
dikeluarkan  untuk  membeli  standar  gizi  minimum  dan  kebutuhan  mendasar  lainnya.  2)  jumlah
kebutuhan  lain  yang  sangat  bervariasi,  yang  mencerminkan   biaya  partisipasi  dalam  kehidupan
masyarakat sehari-hari.
Gambar 4. tingkat Kemiskinan di Kota Manado
Anggaran  daerah  atau  Anggaran Pendapatan  dan  Belanja  Daerah  (APBD)  merupakan
instrumen kebijakan yang utama bagi pemerintah daerah. Anggaran daerah menduduki posisi sentral
dalam upaya pengembangan kapabilitas, efisiensi, dan efektifitas pemerintah daerah. Anggaran daerah
seharusnya  dipergunakan  sebagai  alat  untuk  menentukan  besarnya  pendapatan,  pengeluaran,  dan
pembiayaan,  alat  bantu  pengambilan  keputusan  dan  perencanaan  pembangunan,  alat  otoritas
pengeluaran  di  masa  yang  akan  datang,  ukuran  standar  untuk  evaluasi  kinerja  serta  alat  koordinasi
bagi  semua  aktivitas  di  berbagai  unit  kerja.  Anggaran  sebagai  instrumen  kebijakan  dan  menduduki
posisi sentral harus memuat kinerja, baik untuk penilaian secara internal maupun keterkaitan dalam
mendorong  pertumbuhan  ekonomi  yang  selanjutnya  mengurangi  pengangguran  dan  menurunkan
tingkat kemiskinan.
Dalam  pengalokasian  dana  transfer  dari  pusat  kepada  pemerintah  daerah  yang  begitu  besar
seharus  dapat  berpengaruh  terhadap  pertumbuhan  ekonomi  Kota  Manado  sehingga  pertumbuhan
ekonomi  meningkat  dan  tingkat  kemiskinan  dikota  Manado  pun  akan  menurun.  Berdasarkan  latar
belakang  diatas  maka  judul  penelitian  ini  adalah  “Pengaruh  Dana  Alokasi  Umum  dan  Belanja
Langsung Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Dampaknya terhadap Kemiskinan di Kota Manado”
mencari  tahu seberapa  besar  pengaruh  pengelolaan  dana  pemerintah  yang  nantinya  berdampak
terhadap  penurunan  tingkat  kemiskinan  di  Kota  Manado,  Tujuan  penelitian  ini  adalah Mengetahui
pengaruh Dana Alokasi Umum dan Belanja Langsung teerhadap Pertumbuhan Ekonomi, Mengetahui
pengaruh  langsung  Dana  Alokasi  Umum  terhadap  tingkat  Kemiskinan  di  Kota  Manado,  serta
0
100,000
200,000
300,000
Tingkat Kemiskinan di Kota Manado
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
34
Dyah Arini, (2008) mengatakan bahwa kemiskinan dapat muncul sebagai akibat dari tingginya
tingkat pengangguran dalam suatu Negara atau Daerah tertentu. Akan tetapi kemiskinan tidak hanya
diakibatkan  oleh  ketiadaan  pekerjaan.  Kondisi  tersebut  bisa  juga  terjadi  karena  kemalasan,
ketidakmauan untuk bekerja keras yang hanya menunggu adanya pemberian dari orang lain. Selain itu
persoalan  kemiskinan  juga  terletak  pada  adanya  ketidakpastian  dari  pemerintah  yang  memberikan
janji-janji  palsu  untuk  masyarakat  awam.  Penduduk  miskin  hanya  memiliki  sumber  daya  dalam
jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas
sumberdaya  manusia.  Kualitas  sumber  daya   manusia  yang  rendah  berarti  produktivitasnya  rendah,
yang  pada  gilirannya   upahnya  rendah.  Ketiga,  kemiskinan  muncul  akibat  perbedaan  akses  dalam
modal.
Kemiskinan  merupakan  sebagai  ketidakmampuan  untuk  memenuhi  standar  hidup  minimum.
Semua tingkat kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu. Pilihan norma tersebut
sangat  penting  terutama  dalam  hal  pengukuran  kemiskinan  yang  didasarkan  konsumsi.  Garis
kemiskinan  yang   didasarkan  pada  konsumsi  terdiri  dari  dua  elemen,  yaitu:  1)  pengeluaran  yang
dikeluarkan  untuk  membeli  standar  gizi  minimum  dan  kebutuhan  mendasar  lainnya.  2)  jumlah
kebutuhan  lain  yang  sangat  bervariasi,  yang  mencerminkan   biaya  partisipasi  dalam  kehidupan
masyarakat sehari-hari.
Gambar 4. tingkat Kemiskinan di Kota Manado
Anggaran  daerah  atau  Anggaran Pendapatan  dan  Belanja  Daerah  (APBD)  merupakan
instrumen kebijakan yang utama bagi pemerintah daerah. Anggaran daerah menduduki posisi sentral
dalam upaya pengembangan kapabilitas, efisiensi, dan efektifitas pemerintah daerah. Anggaran daerah
seharusnya  dipergunakan  sebagai  alat  untuk  menentukan  besarnya  pendapatan,  pengeluaran,  dan
pembiayaan,  alat  bantu  pengambilan  keputusan  dan  perencanaan  pembangunan,  alat  otoritas
pengeluaran  di  masa  yang  akan  datang,  ukuran  standar  untuk  evaluasi  kinerja  serta  alat  koordinasi
bagi  semua  aktivitas  di  berbagai  unit  kerja.  Anggaran  sebagai  instrumen  kebijakan  dan  menduduki
posisi sentral harus memuat kinerja, baik untuk penilaian secara internal maupun keterkaitan dalam
mendorong  pertumbuhan  ekonomi  yang  selanjutnya  mengurangi  pengangguran  dan  menurunkan
tingkat kemiskinan.
Dalam  pengalokasian  dana  transfer  dari  pusat  kepada  pemerintah  daerah  yang  begitu  besar
seharus  dapat  berpengaruh  terhadap  pertumbuhan  ekonomi  Kota  Manado  sehingga  pertumbuhan
ekonomi  meningkat  dan  tingkat  kemiskinan  dikota  Manado  pun  akan  menurun.  Berdasarkan  latar
belakang  diatas  maka  judul  penelitian  ini  adalah  “Pengaruh  Dana  Alokasi  Umum  dan  Belanja
Langsung Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Dampaknya terhadap Kemiskinan di Kota Manado”
mencari  tahu seberapa  besar  pengaruh  pengelolaan  dana  pemerintah  yang  nantinya  berdampak
terhadap  penurunan  tingkat  kemiskinan  di  Kota  Manado,  Tujuan  penelitian  ini  adalah Mengetahui
pengaruh Dana Alokasi Umum dan Belanja Langsung teerhadap Pertumbuhan Ekonomi, Mengetahui
pengaruh  langsung  Dana  Alokasi  Umum  terhadap  tingkat  Kemiskinan  di  Kota  Manado,  serta
Tingkat Kemiskinan di Kota Manado
Tingkat Kemiskinan di Kota
Manado
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
34
Dyah Arini, (2008) mengatakan bahwa kemiskinan dapat muncul sebagai akibat dari tingginya
tingkat pengangguran dalam suatu Negara atau Daerah tertentu. Akan tetapi kemiskinan tidak hanya
diakibatkan  oleh  ketiadaan  pekerjaan.  Kondisi  tersebut  bisa  juga  terjadi  karena  kemalasan,
ketidakmauan untuk bekerja keras yang hanya menunggu adanya pemberian dari orang lain. Selain itu
persoalan  kemiskinan  juga  terletak  pada  adanya  ketidakpastian  dari  pemerintah  yang  memberikan
janji-janji  palsu  untuk  masyarakat  awam.  Penduduk  miskin  hanya  memiliki  sumber  daya  dalam
jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas
sumberdaya  manusia.  Kualitas  sumber  daya   manusia  yang  rendah  berarti  produktivitasnya  rendah,
yang  pada  gilirannya   upahnya  rendah.  Ketiga,  kemiskinan  muncul  akibat  perbedaan  akses  dalam
modal.
Kemiskinan  merupakan  sebagai  ketidakmampuan  untuk  memenuhi  standar  hidup  minimum.
Semua tingkat kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu. Pilihan norma tersebut
sangat  penting  terutama  dalam  hal  pengukuran  kemiskinan  yang  didasarkan  konsumsi.  Garis
kemiskinan  yang   didasarkan  pada  konsumsi  terdiri  dari  dua  elemen,  yaitu:  1)  pengeluaran  yang
dikeluarkan  untuk  membeli  standar  gizi  minimum  dan  kebutuhan  mendasar  lainnya.  2)  jumlah
kebutuhan  lain  yang  sangat  bervariasi,  yang  mencerminkan   biaya  partisipasi  dalam  kehidupan
masyarakat sehari-hari.
Gambar 4. tingkat Kemiskinan di Kota Manado
Anggaran  daerah  atau  Anggaran Pendapatan  dan  Belanja  Daerah  (APBD)  merupakan
instrumen kebijakan yang utama bagi pemerintah daerah. Anggaran daerah menduduki posisi sentral
dalam upaya pengembangan kapabilitas, efisiensi, dan efektifitas pemerintah daerah. Anggaran daerah
seharusnya  dipergunakan  sebagai  alat  untuk  menentukan  besarnya  pendapatan,  pengeluaran,  dan
pembiayaan,  alat  bantu  pengambilan  keputusan  dan  perencanaan  pembangunan,  alat  otoritas
pengeluaran  di  masa  yang  akan  datang,  ukuran  standar  untuk  evaluasi  kinerja  serta  alat  koordinasi
bagi  semua  aktivitas  di  berbagai  unit  kerja.  Anggaran  sebagai  instrumen  kebijakan  dan  menduduki
posisi sentral harus memuat kinerja, baik untuk penilaian secara internal maupun keterkaitan dalam
mendorong  pertumbuhan  ekonomi  yang  selanjutnya  mengurangi  pengangguran  dan  menurunkan
tingkat kemiskinan.
Dalam  pengalokasian  dana  transfer  dari  pusat  kepada  pemerintah  daerah  yang  begitu  besar
seharus  dapat  berpengaruh  terhadap  pertumbuhan  ekonomi  Kota  Manado  sehingga  pertumbuhan
ekonomi  meningkat  dan  tingkat  kemiskinan  dikota  Manado  pun  akan  menurun.  Berdasarkan  latar
belakang  diatas  maka  judul  penelitian  ini  adalah  “Pengaruh  Dana  Alokasi  Umum  dan  Belanja
Langsung Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Dampaknya terhadap Kemiskinan di Kota Manado”
mencari  tahu seberapa  besar  pengaruh  pengelolaan  dana  pemerintah  yang  nantinya  berdampak
terhadap  penurunan  tingkat  kemiskinan  di  Kota  Manado,  Tujuan  penelitian  ini  adalah Mengetahui
pengaruh Dana Alokasi Umum dan Belanja Langsung teerhadap Pertumbuhan Ekonomi, Mengetahui
pengaruh  langsung  Dana  Alokasi  Umum  terhadap  tingkat  Kemiskinan  di  Kota  Manado,  serta
Tingkat Kemiskinan di Kota
Manado
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
35mengetahui pengaruh langsung Belanja Langsung teerhadap Kemiskinan di kota Manado, Mengetahui
apakah Pertumbuhan Ekonomi Kota Manado mempunyai pengaruh signifikan terhadap Kemiskinan
Setyowati dan Suparwati (2012) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Pertumbuhan
Ekonomi,  DAU, DAK, PAD  Terhadap  Indeks  Pembangunan  Manusia  dengan  Pengalokasian
Anggaran  Belanja  Modal  Sebagai  Variabel  Intervening,Penelitian  ini bertujuan  untuk  mengetahui
apakah  Pertumbuhan  Ekonomi,  DAU,  DAK,  dan  PAD  berpengaruh  terhadap  Indeks  Pembangunan
Manusia Melalui Pengalikasian Anggaran Belanja ModalPengembangan Deskripsi KasusBerdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh Pertumbuhan Ekonomi DAU, DAK, PAD
terhadap  Indeks  Pembangunan  Manusia  dengan  Pengalokasian  Anggaran  Belanja  Modal  sebagai
Variabel Intervening bahwa Pertumbuhan Ekonomi tidak berpengaruh terhadap Indeks Pembanguna
Manusia  (IPM)  melalui  Pengalokasian  Anggaran  Belanja  Modal  (PABM),  sedangkan  DAU,  DAK,
PAD  terbukti  berpengaruh  positif  terhadap  Indeks  Pembangunan  Manusia  (IPM)  melalui
Pengalokasian  Anggaran  Belanja  Modal(PABM),  Dan  Pengalokasian  Anggaran  Belanja  Modal
(PABM)  yang  diporsikan  dengan  Belanja Modal  (BM)  terbukti  berpengaruh  positif  trhadap  Indeks
Pembangunan Manusia (IPM)
Anis  Setiyawati  (2007)  melakukan  penelitian  yang  berjudul  Analisis  Pengaruh  PAD,  DAU,
DAK, dan Belanja Pembangunan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan, dan Pengangguran :
Pendekatan  Analisis  jalur  Untuk  mengetahui  hubungan  pengaruh  antara  variabel  independen  PAD,
DAU,  DAK  terhadap  variabel  dependen  Belanja  Pembangunan  berpengaruh  langsung  terhadap
Pertumbuhan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh secara langsung terhadap Kemiskinan
dan pengangguran metodepenelitian yang digunakan  adalah  Pendekatan  Kuantitatif  Hasil
pengujian  yang  dilakukan  menunjukan  bahwa  PAD  berpengaruh  Positif  terhadap  Pertumbuhan
Ekonomi,  sedangkan  DAU  berpengaruh  Negatif  terhadap  Pertumbuhan  Ekonomi.  Untuk  pengujian
secara  langsung  Pengaruh  Pertumbuhan  Ekonomi  terhadap  Kemiskinan  dan  Pengangguran
berpengaruh menunjukan adanya pengaruh yang signifikan, tetapi Pertumbuhan ekonomi brpengaruh
negatif terhadap Kemiskinan dan berpengaruh positif terhadap Pengangguran.
Try Indraningrum, (2011) melakukan penelitian yang berjudul Pendapatan Asli Daerah (PAD)
dan  Dana  Alokasi  Khusus  Terhadap  Belanja  Langsung  (studi  Pada  Pemerintah  Daerah
Kabupataen/Kota  Di  Provinsi  Jawwa  Tengah)  penelitian  ini  untuk  membuktikan  secara  Imperis
Pengaruh  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  dan  Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  terhadap  Belanja
Langsung  pada  Pemerintah  Daerah  Kbupaten/  Kota  dai  Provinsi  Jawa  Tengah.  Penelitian  yang
digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  Asosiatif  Kausal,  yaitu penelitian  yang  bertujuan  untuk
mrnganalisis  hubungan  antara  dua  variabel  dengan  variabel  lainya  atau  bagaimana  suatu  variabel
mempengaruhi  variabel  lainyaHasil  dari  penelitian  ini  menunjukan  bahwa  Pendapatan  Asli  Daerah
(PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Belanja
Langsung.  Hal  tersebut  berarti  Pemerintah  Daerah  dapat  memprediksi  anggaran  Belanja  Langsung
didasarkan pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU).
Nur Indah Rahmawati Pengaruh  Pendapatan  Asli  Daerah  (PAD)  dan  Dana  Alokasi  Umum
(DAU) terhaddap Alokasi Belanja Daerah (Studi Pada Pemerintah Kabupaten Jawa Tengah) Penelitan
ini bertujuan untuk membuktikan secara Emperis pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Dana
Alokasi  Umum  (DAU)  pada  Alokasi  Belanja  Daerah  pada  Kabupaten/Kota  di  Jawa  Tengah Hasil
Penelitian  ini  menunjukan  bahwa  DAU  dan  PAD  mempunyai  pengaruh  yang  signifikan  terhadap
alokasi Belanja Daerah. Jika dilihat lebih lanjut, tingkat ketergantungan aloksaoo Belanja Daerah lebih
dominan terhadap PAD dari pada DAU
Berdasar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, desentralisasi
diartikan sebagai penyerahan kewenangan pemerintah oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam
kerangka  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia.  Sementara  Otonomi  Daerah  diartikan  sebagai  hak
wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan Pemerintahan
dan  kepentingan  masyarakat  setempat  sesuai  dengan  peraturan  Perundang-Undangan  (UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004).
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
36
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai mana yang dimaksud dalam Undang-Undang Republik
Indonesia  adalah  tentang  pengelolaan  Keuangan  Daerah  harus  dilakukan  secara  efisien,  efktif,
transparan, akuntabel, tertib, adil, patuh, dan taat pada peraturan Perundang-Undangan. Setiap daerah
dipimpin  oleh  Kepala  Pemerintah  Daerah  yang  disebut  Kepala  Daerah.  Kepala  Daerah  adalah
pemegang  kekuasaan  dalam  pengelolaan  Keuangan  Daerah.  Dalam  melaksanakan  kekuasaan
sebagaimana  yang  dimaksud  adalah  kepala  daerah dapat  melimpahkan  sebagian  atau  seluruh
kekuasaan  yang  berupa  perencanaan,  pelaksanaan,  penatausahaan,  pelaporan  dan
pertanggungjawaban, serta pengawasan, keuangan daerah kepada para Pejabat Perangkat Daerah. Dan
dalam  pelimpahan  sebagian  atau  seluruh  kekuasaan  harus  berdasarkan  pada  prinsip  pemisahan
kewenangan antara yang memerintahkan, menguji yang menerima/mengeluarkan uang
Menurut  Undang-undang  Republik  Indonesia  No.17 Tahun  2003 tentang  Keuangan  Negara,
menyatakan bahwa Pendapatan merupakan hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai
kekayaan bersih. Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui kas umum daerah, yang
menambah ekuitas dana,  merupakan hak daerah dalam  satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar
kembali  oleh daerah.  Pendapatan  daerah  dirinci  menurut  urusan  pemerintah  daerah,  organisasi,
kelompok,  jenis,  serta  obyek  pendapatan  (Admin,2010)  Pendapatan  daerah  terdiri  atas  Pendapatan
Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan lain-lain Pendapatan yang sah (Bab IV Pasal 16 No 3 UU Nomor
17 Tahun 2003).
Pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD yaitu bersumber dari Pendapatan hasil
Pajak, hasil Retribusi Daerah, hasil-hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan lain-lain
PAD  yang  sah.  Pajak  daerah  dan  retribusi  daerah  ditetapkan.  dengan  Undang-Undang  yang
pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Perda. Pemerintahan daerah dilarang melakukan
pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang telah ditetapkan Undang-Undang.
Menurut burhanuddin,(2010)  mengatakan  bahwa  dana  perimbangan  adalah  dana  yang
bersumber  dari  pendapatan  APBN  yang  dialokasikan  kepada  daerah  untuk  mendanai  kebutuhan
daerah  dalam  rangka  pelaksanaan  desentralisasi  (UU  No  33  Tahun  2004  dan  PP  Nomor  55  Tahun
2005), dan dana perimbangan bertujuan untuk menciptakan kesenjangan fiskal antara pemerintah dan
pemerintah daerah.
Dana  Bagi  Hasil  sebagai  mana  yang  dimaksud  berasal  dari  pajak  dan  sumber  daya  alam
dimana.Dana Bagi Hasil yang berasal dari Pajak terdiri dari pajak bumi dan Bangunan (PBB) sektor
pedesaan, Bea Perolehan Atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Penghasilan (PPh) wajib
pajak orang pribadi.
Dana Alokasi Umum sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia
No 17 Tahun 2003 dialokasikan berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan dalam Negeri neto
yang ditetapkan dalam APBN. DAU untuk suatu daerah ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu yang
menekankan  pada  aspek  pemerataan  dan  Keadilan  yang  selaras  dengan  penyelenggaraan  urusan
Pemerintah yang formula dan perhitungan DAU-nya ditetapkan sesuai Undang-Undang.
Dana  Alokasi  khusus  (DAK)  sebagaimana  yang  dimaksud  dalam  Undang-Undang  Republik
Indonesia  No  17  Tahun  2003  dialokasikan  dari  APBN  kepada  Daerah  tertentu  dalam  rangka
pendanaan  pelaksanaan  desentralisasi  untuk  mendanai  kegiatan  khusus  yang  ditentukan  pemerintah
atas dasar priorita nasional, serta mendanai kegiatan khusus yang diusulkan oleh daerah tertentu.
Lain-lain  pendapatan  daerah  yang  sah  sebagaimana  yang  dimaksud  dalam  Undang-Undang
Republik Indonesia No 32 Tahun 2004 merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan Dana
Perimbangan,  yang  meliputi  hibah,  dana  darurat,  dan  lain-lain  pendapatan  yang  ditetapkan
Pemerintah. Dana hibah merupakan bantuan berupa uang, barang, dan/ atau jasa yang diberikan dari
pemerintah, masyarakat dan badan usaha dalam Negeri atau luar Negeri.
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
37
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No 27 Tahun 2013 Belanja daerah harus digunakan
untuk  pelaksanaan  urusan  pemerintahan  yang  menjadi  kewenangan  pemerintah  provinsi  dan
pemerintah Kabupaten/Kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk
melindungi  dan  meningkatkan  kualitas  kehidupan  masyarakat  dalam  upaya  memenuhi  kewajiban
daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas
sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Pelaksanaan urusan
wajib dimaksud berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan.
Belanja  terdiri  dari  Belanja  Pegawai,  Belanja  Bunga,  Belanja  Subsidi,  Belanja  Hibah  dan
Bantuan  Sosial,  Belanja  Bagi  Hasil  Pajak,  Belanja  Bantuan  Negara,  dan  Belanja  Tidak  Terduga.
Penganggaran Belanja Tidak Terduga dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan realisasi
Tahun  Anggaran  2012 dan  kemungkinan  adanya  kegiatan-kegiatan  yang  sifatnya  tidak  dapat
diprediksi sebelumnya, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah.
Penganggaran belanja langsung dalam rangka melaksanakan program dan kegiatan pemerintah
daerah memperhatikan hal-hal sebagai seperti alokasi belanja langsung dalam APBD digunakan untuk
pelaksanaan urusan pemerintahan daerah, yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Belanja
langsung  dituangkan  dalam  bentuk  program  dan  kegiatan,  yang  manfaat  capaian  kinerjanya  dapat
dirasakan  langsung  oleh  masyarakat  dalam  rangka  peningkatan  kualitas  pelayanan  publik  dan
keberpihakan pemerintah daerah kepada kepentingan publik
Pembiayaan Daerah Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No 27 Tahun 2013 pembiayaan
daerah  terdiri  dari  Penerimaan  Pembiayaan,  Pengeluaran  Pembiayaan  dan  Sisa  Lebih  Pembiayaan
(SLIPA)  tahun  berjalan.  Dalam  rangka  pemberdayaan  masyarakat,  pemerintah  daerah  dapat
menganggarkan investasi jangka panjang non permanen dalam bentuk Peraturan Pemerintah Nomor
58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Boediono (1992) mengatakan Pertumbuhan Ekonomi juga berkaitan dengan kenaikan ”output
perkapita”. Dalam pengertian ini teori tersebut harus mencakup teori mengenai pertumbuhan GDP dan
teori mengenai pertumbuhan penduduk. Sebab hanya apabila kedua aspek tersebut dijelaskan, maka
perkembangan  output  perkapita  bisa  dijelaskan.  Kemudian  aspek  yang  ketiga  adalah  pertumbuhan
ekonomi  dalam  perspektif  jangka  panjang,  yaitu  apabila  selama  jangka  waktu  yang  cukup  panjang
tersebut output perkapita menunjukkan kecenderungan yang meningkat (Donderdag, 2013).
Tidak  mudah  untuk  mendefenisikan  kemiskinan, karena  kemiskinan  itu  mengandung  unsur
ruang  dan  waktu  (Maipita,  2013).  Konsep  kemiskinan  pada  zaman  perang  akan  berbeda  dengan
konsep kemiskinan pada zaman merdeka dan moderen sekarang ini. Seseorang dikatakan miskin atau
tidak  miskin  pada  zaman  penjajahan  dahulu  akan  berbeda  dengan  saat  ini.  Demikian  juga  dari  sisi
tempat,  konsep  kemiskinan  di  Negara  maju  tentulah  berbeda  dengan  konsep  kemiskinan  di  Negara
berkembang dan terkebelakang (Indra Maipita, 2013).
+
Gambar 4. Diagram Kerangka Pemikiran
Dana Alokasi
Umum (X1)
Belanja
Langsung (X2)
Pertumbuhan
Ekonomi (X3)
Kemiskinan (Y)
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
38
2. METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian ini juga merupakan hubungan kausal (causal effect), dimana penelitian yang
dilakukan terhadap fakta-fakta untuk membuktikan secara impiris pengaruh Dana Alokasi Umum dan
Belanja Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan berdampak pada tingkat Kemiskinan di Kota
manado.
Untuk mendapatkan dan pengumpulan data yang digunakan dalam menyelesaikan penelitian
ini  diperoleh  dari  realisasi  Dana  Alokasi  Umum  Kota  Manado,  realisasi  jumlah  Belanja  Langsung
pemerintah Kota Manado, laporan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kota Manado, dan jumlah
orang miskin di kota Manado yang di dapat dari perpustakaan Badan Pusat Statistik Ssulawesi Utara
yang  beralamat  di  Jln.  17  agustus  Manado  dan  mengakses  situs  badan  pusat  statistik  yaitu
www.bps.go.id .
Sugiyono  (2001)  menyatakan  bahwa  populasi  adalah  wilayah  generalisasi  yang  terdiri atas
objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari  dan  kemudian  ditarik  kesimpulannya.  Populasi  yang  digunakan  dalam  penelitian  adalah
jumlah dana alokasi umum, belanja langsung yang ada di Kota Manado. Pertumbuhan ekonomi yang
pernah terjadi di Kota Manado, dan tingkat Kemiskinan di Kota Manado. Menurut Sugiyono ( 2001 :
60) nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi
setiap  unsur  atau  anggota populasi  untuk  dipilih  menjadi  sampel.  Sampel  yang  digunakan  dalam
penelitian  ini  adalah  realisasi  dana  alokasi  umum,  belanja  langsung,  kondisi  pertumbuhan  ekonomi
kota Manado dan tingkat kemiskinan di Kota Manado
Metode Pengumpulan Data
Dalam  pengumpulan data  peneliti  menggunakan  data  sekunder  yaitu  dokumentasi  dengan
pengumpulan  data  yang  berhubungan  dengan  pokok  bahasan  yang  penulis  kutip  dari  buku,  catatan
atau laporan histories yang telah tersusun dalam arsip(data documenter yang dipublikasikan dan yang
tidak  dipublikasikan)  yang  berasal  dari  perpustakaan  Badan  Pusat  Statistik  (BPS)  Sulawesi  Utara
mengenai  jumlah  Dana  Alokasi  Umum,  Belanja  Langsung,  Pertumbuhan  Ekonomi,  dan  tingkat
Kemiskinan di Kota Manado (periode 2004-2012).
Metode Analisis
Analisis dalam  penelitian  ini  adalah  analisis  deskriptif  dan  analisis  induktif  atau  analisis  inferensia.
Analisis deskriptif ditujukan untuk memberikan gambaran awal tentang dana alokasi umum, belanja
langsung, pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan dikota manado. Sedangkan analisis statistik
inferensia adalah berupa regresi sederhana, regresi berganda dan analisis jalur (path analysis). Metode
analisis  Analisis  jalur  (path  analysis)  yaitu  untuk  mengetehui  Pengaruh  Variabel  Independen
Exogenus terhadap Variabel Dependen Endogenus.
Analisis Normalitas Data
Uji  normalitas  bertujuan  untuk  mengetahui  apakah  masing-masing  variabel  berdistribusi
normal  atau  tidak.  Uji  normalitas  diperlukan  karena  untuk  melakukan  pengujian-pengujian  variabel
lainnya  dengan  mengasumsikan bahwa  nilai  residual  mengikuti  distribusi  normal.  Jika  asumsi  ini
dilanggar  maka  uji  statistik  menjadi  tidak  valid  dan  statistik  parametrik  tidak  dapat  digunakan.
(Ghozali,2007) http://digilib.unpas.ac.id/download.php?id=2373
Definisi dan Pengukuran Variabel
Definisi  operasional  adalah  memberikan  pengertian  terhadap  suatu  variabel  dengan
menspesifikasikan  kegiatan  atau  tindakan  yang  diperlukan  peneliti  untuk  mengukur  atau
memanipulasinya, ( Sularso, 2003)
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
39
1. Dana  Alokasi  Umum  (DAU)  yaitu  dana  transfer  yang  bersifat  umum  dari  pemerintah  pusat  ke
pemerintah  daerah  untuk  mengatasi  ketimpangan  dengan  tujuan  pemerataan  kemampuan
keuangan  daerah  untuk   membiayai  kebutuhan  pengeluaran  dalam  rangka  pelaksanaan
desentralisasi.  DAU  dalam  penelitian  ini  adalah  realisasi  DAU  di  Kota  Manado,  diukur  dalam
satuan jutaan rupiah.
2. Belanja  langsung  berasal  dari  Dana  Alokasi  Umum  yang  direalisasikan  dalam  bentuk  belanja
pembangunan daerah. belanja langsung dalam penelitian ini adalah realisasi Belanja langsung di
Kota Manado, diukur dalam satuan jutaan rupiah
3. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu
perekonomian  daerah  dalam  suatu  tahun  tertentu.  Dalam  penelitian  ini  adalah  pertumbuhan
ekonomi Kota Manado yang di ukur dalam satuan persen . Untuk pertumbuhan ekonomi diukur
pendapatan domestik regional bruto (PDRB) saat ini dikurangi dengan PDRB sebelumnya dibagi
dengan PDRB saat ini.
4. Kemiskinan diukur dengan jumlah tingkat kemiskinan yang ada di Kota Manado.
Analisis Path
Teknik  ini  juga  dikenal  dengan  model  sebab-akibat  (causing  modeling).  Penamaan  ini
didasarkan pada alasan bahwa analisis jalur memungkinkan pengguna dapat menguji proporsi teoritis
mengenai  hubungan  sebab akibat  tanpa  memanipulasi  variable-variabel.  Memanipulasi  variabel
maksudnya  ialah  memberikan  perlakuan  (treathment)  terhadap   variabel-variabel  tertentu  dalam
pengukuranya.  Asusmsi  dasar  dalam   analisis  ini  ialah  beberapa  variable  sebenarnya  mempunyai
hubungan yang sangat dekat satu dengan yang lainya. Dalam perkembanganya saat ini path analysis
diperluas  dan  diperdalam  kedalam  bentuk  analisis  “  structural  equastion  modeling”  atau  dikenal
dengan singkatan SEM
3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengujian dan Pembahasan
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
40
Uji Intervening
Sub Struktur I Sub Struktur II
Sub Struktur I
Sub Struktur III Sub Struktur IV
 Pengaruh langsung Dana Alokasi Umum ke Kemiskinan
= X1Y (-0,833)
 Pengaruh  tidak  langsung  Dana  Alokasi  Umum  ke  Kemiskinan  melalui  Pertumbuhan
Ekonomi
= (X1Y 0,150 x X2Y -0,239) = 0,035
 Pengaruh total (Dana Alokasi Umum ke Kemiskinan melalui Pertumbuhan Ekonomi)
= X1Y (0,150) +( X1Y 0,150 x X3Y -0,912)
= 0,150 + -0,136
= 0,014
 Pengaruh langsung Belanja Langsung ke Kemiskinan
=X2Y (-0,239)
 Pengaruh  tidak  langsung  Belanja  Langsung  ke  Kemiskinan  melalui  Pertumbuhan
Ekonomi
= X2Y (-0,239) x X3Y (-0,912) = 0,217
 Pengaruh total (Belanja Langsung ke Kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi)
= X2Y (-0,239) + (X2Y (-0,239) x X3Y (-0,912)
= -0,293 + 0,217
= -0,022
Y = a + βX1 + βX2 + e1
Y = 2,947 + 0,230 + 0,411
Stdr error = 02,621+ 0.257 + 0.411
Beta = 0 0.349 0.567
t-hitung = 1,124 0,896 1.455
f-hitung = 11,385
error term = √1-R
2
= √1-0.791
=0.209
Y = a + βX1 + e1
Y = 16,708 + -0,577
Stdr error = 2,862 + 0.145
Beta = 0 -0.833
t-hitung = 5.838 -3,985
f-hitung = 15,879
error term = √1-R
2
= √1-0.818
=0.182
Y = a + βX2 + e1
Y =18,607 + -0,691
Stdr error = 2,369 + 0.123
Beta = 0 -0,905
t-hitung = 7,853 -5,615
f-hitung = 31,526
error term = √1-R
2
= √1-0.818
=0.182
Y = a + βX1 + βX2 + βX3 + e1
Y = 21,566 + 0,104 + -0.182 + -0,960
Stdr error = 0,294 + 0,028 + 0,034 + 0,042
Beta = 0 0,150 -0.239 -0.912
t-hitung = 73,352 3,723 -5,440 -23,066
f-hitung = 1020,233
error term = √1-R
2
= √1-0,998
=0.002
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
41
Y1 = X1X3 (0,349) + e1 (0,209) = 0,558
Y1 = X2X3 (0,567) + e1 (0,209) = 0,776
Y = X1Y (0,150) + X3Y (-0,912) + e2 (0,002) = -0,76
Y = X2Y (-0,239) + X3Y (-0,912) + e2 (0,002) = -1,149
Hasil output SPSS memberikan nilai standardized beta Dana Alokasi Umum pada persamaan
(1)  sebesar  0,349  dan  signifikan  pada  0.405,  dan  nilai  standardized  beta   Belanja  Langsung  adalah
0,567  dan  Signifikan  0,196.  yang  berarti  Dana  Alokasi  Umum  dan  belanja  Langsung  tidak
mempengaruhi  Pertumbuhan  Ekonomi  secara  langsung  dengan  ditunjukan  Nilai  koefisien
standardized beta Dana Alokasi Umum (DAU) 0,349, dan Belanja Langsung 0,567 yang merupakan
nilai path atau jalur sub struktur I.
Dari  nilai standarized  Coefficients  beta dalam  pengujian  sub  struktur  II  nilai standarized
coefficients dana  alokasi  umum  sebesar -0,833  dengan  nilai  signifikan  sebesar  0,005  yang  berarti
variabel dana alokasi umum secara langsung berpengaruh pada penurunan tingkat kemiskinan di Kota
Manado.
Dari Nilai standardized  beta dalam  pengujian  sub  struktur  III  nilai standarized  coefficients
belanja  langsung  terhadap  kemiskinan  adalah  sebesar -0,905  dengan  tingkat  signifikan  0,001  yang
berarti variabel belanja langsung secara langsing berpengaruh terhadap penurunan tingkat kemiskinan
di Kota manado.
Dari nilai standardized  beta dalam  pengujian  sub  struktur  IV  Dana  Alokasi  Umum  0,150
dengan  nilai  Signifikan 0,014,  Belanja  Langsung -0,239  dengan  nilai  Signifikan  0,003,  dan
pertumbuhan  ekonomi  sebesar -0,912  dengan  nilai  signifikan  0,000,  yang  berarti  variabel  Dana
Alokasi  Umum,  Belanja  Langsung  dan  Pertumbuhan  Ekonomi  secara  gabung  memiliki  pengaruh
terhadap penurunan tingkat Kemiskinan di Kota Manado.
Dari dari  hasil  analisis  jalur  diatas  menunjukan  bahwa  Dana  Alokasi  Umum,  dan  Belanja
Langsung  dapat  berpengaruh  langsung  terhadap  Kemiskinan,  dan  juga  tidak  langung  berpengaruh,
melalui  Pertumbuhan  Ekonomi  sebagai  variabel  intervening.  Besarnya  pengaruh  langsung  DAU
terhadap  Kemiskinan  secara  langsung  sebesar -0,833  dan  pengaruh  tidak  langsung  DAU  terhadap
melalui  Kemiskinan  adalah -0,833  x -0,912  =  0,759,  dan  pengaruh  langsung  Belanja  Langsung
terhadap Kemiskinan sebesar -0,905 dan pengaruh tidak langsung terhadap Kemiskinan adalah -0,905
x -0,912 = 0,825.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan  hasil  dan  pembehasan  yang  dilakukan  sebelumnya  maka  dapat  diambil
kesimpulan bahwa Pengaruh Variabel Dana Alokasi Umum, Belanja Langsung terhadap Pertumbuhan
Ekonomi secara gabung tidak memiliki pengaruh.
Pengaruh  Variabel  Dana  Alokasi  Umum  terhadap  Kemiskinan  secara  langsung   memiliki
pengaruh  terhadap  penurunan  tingkat  kemiskinan  di  Kota  Manado,  dan  pengaruh  belanja  langsung
terhadap  kemiskinan  secara  langsung  memiliki  pengaruh  signifikan  dalam  menurunkan  tingkat
kemiskinan di Kota Manado.
Dan  secara  gabungan  antara  variabel  Dana  Alokasi  Umum,  Belanja  Langsung  dan
pertumbuhan  Ekonomi  memiliki  pengaruh  terhadap  penurunan  tingkat  Kemiskinan  di  yang  ada  di
Kota Manado
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 14 no. 3 - Oktober 2014
42Saran
Bagi  Pemerintah  daerah  untuk  dapat  memacu  sektor-sektor  pendapatan  potensial  serta
membuka sektor-sektor perekonomian baru untuk dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
yang nantinya akan berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan
perekonomian  di  kota Manado,  serta dapat memaksimalkan  pengelolaan  keuangan  sehingga  potensi
perekonomian yang ada di kota Manado dapat dimaksimalkan yang nantinya akan mengurangi tingkat
kemiskinan di kota manado.
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin,2010. Tentang Dana Perimbangan.
Donderdag 02 Mei 2013pengertian pertumbuhan ekonomi yang di kutib dari Boediono, 1992. Teori
Pertumbuhan Ekonomi, Yogyakarta : BPFE
Indraningrum Try, 2011. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Alokasi Umum (DAU)
terhadap Belanja Langsung ( Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa
Tengah ) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro SemarangPengerian belanja
langsung http://www.bimbingan.org/pengertian-belanja-langsung.htm
Leode Islamy, 2009 Akuntabilitas Pengelolaan Dana Alokasi Umum (DAU)
Makruf  Dikko  Alrakhman,  2011.  (Pentingnya  Dana  Alokasi  Umum  dan  Dana  Alokasi  Khusus
Ssebagai Dana Perimbangan Dalam Kerangka Otonomi Daerah)Uncategorized
Maipita  Indra  Memahami  “Konsep  Kemiskinan  Waspada  Online  Pusat  berita  &  informasi  medan
sumut aceh”
Mangasa Augustinus Sipahutar. 2013, (Desentralisasi Fiskal dan Perekonomian Daerah)
Nugroho  Suratno  Putro,… Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi,  Pendapatan Asli Daerah dan Dana
Alokasi  Umum Terhadap Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (Studi KasusPada
Kabupaten/Kotadi Provinsi Jawa Tengah (Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro)
Peraturan  Presiden  Republik  Indonesia  No  10  Tahun  2013  Tentang  Dana  Alokasi  Umum  Daerah
Provinsi dan Kabupaten/ Kota Tahun Anggaran 2013.
Sukirno, sadono. 2004. Makro ekonomi. Cetakan ke 5, edisi 3. Jakarta: PT Raja Grafindo
Sugiyono. (2001). Statistika untuk Penelitain. Bandung: Alfabeta.
Vegirawati  Titin,  2012.  “Pengaruh  Alokasi  Belanja  Langsung  terhadap  Kualitas  Pembangunan
Manusia(Studi Kasus Pada Pemerintah Kabupaten Kota di Sumatera Selatan)Universitas IBA
Palembang
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/01/pengertian-pendapatan-daerah.html
http://digilib.unpas.ac.id/download.php?id=2373
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/195909221983031-YAYA_SUKJAYA_KUSUMAH/Pengertian_Variabel_Penelitian.pdf
www.bps.go.id